Wawancara Ketua Umum OAI dengan Penggiat Budaya Negeri Timur Community

Wawancara ini dilakukan oleh Anthonio LanglangBuana dari Negeri Timur Community selaku pembuat pertanyaan, dengan Virza Roy Hizzal dari Organisasi Advokat Indonesia selaku narasumber.


1. apakah alasan utama abang untuk tetap memakai pakaian adat saat melangsungkan acara pernikahan abang kemarin

Jawab:

Alasan utama untuk tetap memakai pakaian adat saat melangsungkan acara pernikahan adalah: Siapa lagi dan kapan lagi kalau bukan diri kita sendiri yang melestarikan, menjaga keberlangsungan adat istiadat dan budaya tradisional nenek moyang kita. Kita harus menggunakan momen-momen penting dalam hidup ini apalagi hal yang bersifat sakral dan sekali dalam hidup seperti perkawinan untuk mengutamakan dan mempergunakan keluhuran nilai-nilai adat istiadat nenek moyang kita dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai hal yang bersifat sakral tersebut menjadi tidak bermakna ketika kita memasukkan nilai-nilai budaya yang bukan berasal dari bangsa  kita sendiri. Misalnya saja budaya barat yang saat ini sudah menjadi lifestyle masyarakat dan menganggapnya suatu yang lebih bagus dan keren, sedangkan budaya tradisional dianggap kampungan. Orang seperti itu adalah orang yang tidak memiliki identitas dan jatidiri bangsa. Dan dia tidak tahu begitu tingginya nilai-nilai keluhuran budaya tradisionil nenek moyang kita.

2. Apakah ada ketidak puasan terhadap wadah Advokasi tempat abang bernaung sebelumnya hingga akhirnya memutuskan tuk mendirikan Lembaga OAI, Tolong berbagi cerita mengenai awal berdirinya OAI… dan bisakah di share mengenai profil tim kerja OAI….

Jawab:

Ketidakpuasan saya dan rekan-rekan adalah kepada para advokat di Indonesia yang saat ini kebanyakan lebih mementingkan profesinya untuk mencari profit semata. Kebanyakan Advokat lebih senang menangani kasus-kasus bisnis yang mengedepankan kepentingan pribadi bukan kepentingan masyarakat dan Negara, sehingga jauh dari cita-cita profesinya yang menyandang gelar Officium Nobile (profesi yang sangat mulia dan terhormat) yang seharusnya mengutamakan penegakan hukum dengan melawan penindasan dan ketidakadilan.

Apalagi saat itu organisasi advokat yang ada saling ribut dan berebut wadah tunggal di mana terdapat lahan uang di sana seperti penyelenggaraan pendidikan, pengangkatan Advokat, dll. Sehingga justru merendahkan dan mencoreng martabat Advokat sendiri di mata masyarakat.

Untuk itulah saya bersama rekan-rekan yang terdiri dari berbagai organisasi advokat berkonsentrasi bahwa profesi Advokat sejatinya adalah untuk menegakkan hukum dan memperjuangkan keadilan sebagai jalan utama, dengan membentuk suatu organisasi yang bernama Organisasi Advokat Indonesia (OAI) pada tanggal 25 Februari 2011.

Mengenai profil OAI,

OAI memiliki slogan “dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge“ yang artinya “Demi Menegakkan Keadilan, Aku Terlahir dari Masa ke Masa”.

OAI yakin bahwa perjuangan untuk menegakkan keadilan tidak akan pernah padam, dan orang-orang yang tertindas serta dizalimi akan senantiasa mendapatkan kedilan. Untuk itulah akan lahir setiap waktu pejuang-pejuang hukum yang yang tangguh demi membela dan memperjuangkan keadilan bagi para pencari keadilan (justiabellen).

Dalam menjalankan misinya, OAI diharapkan mampu menghancurkan kesewenang-wenangan dan ketidakadilan dengan tidak memandang orang besar sekalipun, serta akan memerangi siapa saja yang menjadikan hukum sebagai alat penindas demi kekuasaan semata.

3. Berapa anggota tim abang yang bergabung dalam struktur OAI dan mediasi maupun bantuan apa yang dapat diberikan bagi masyarakat tak mampu terkait masalah hukum?

Jawab:

Anggota OAI berjumlah ratusan yang tersebar di  beberapa wilayah Indonesia. OAI memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma baik litigasi maupun non litigasi kepada orang yang tidak mampu, buta hukum dan tertindas, dengan mengutamakan semangat perlawanan dan perjuangan hukum yang keras demi tercapainya keadilan bagi para pencari keadilan.

4. Nama OAI begitu mencuat setelah kasus Ipad, apakah pelajaran yang mesti di sikapi dari hal tersebut khususnya mengenai perlindungan konsumen?

Jawab:

Pelajaran yang mesti disikapi adalah bahwa hukum saat ini dirasakan tajam bila menghujam masyarakat bawah dan sangat tumpul bila bersinggungan dengan kalangan elite. Kita lihat bahwa aparat penegak hukum kita sangat mudah bila menahan dan memberikan hukuman yang maksimal kepada orang-orang miskin dan kalangan bawah. Contohnya kasus kecelakaan lalu lintas yang menimpa anak menteri hatta rajasa tidak ditahan dan dituntut oleh jaksa dengan hukuman percobaan, coba saja kasus yang sama tersebut menimpa orang lain seperi supir angkot, langsung ditahan dan dituntut serta dihukum maksimal.

Mengenai perlindungan konsumen dalam kasus ipad, di satu sisi masyarakat harus dilindungi dari hal-hal yang dapat membahayakan dan kerugian bagi dirinya sehingga pelaku pelanggaran konsumen harus dihukum, seperti misalnya hak konsumen atas makanan yang terjamin kesehatannya, hak masyarakat akan transportasi yang baik dan hak masyarakat atas membeli dan memiliki barang-barang yang berkualitas baik, dll.

Akan tetapi disisi lain masyarakat harus diberi keleluasaan yang sebebas-bebasnya untuk memanfaatkan teknologi  yang berguna bagi diriya, sehingga jangan pula akses masyarakat untuk memanfaat teknologi tersebut justru ditangkap oleh para penegak hukum seperti dalam kasus ipad tersebut. Dan akhirnya penjual ipad divonis bebas serta dinyatakan tidak bersalah bila menjual ipad yang dibeli dari luar negeri untuk di jual Indonesia secara perorangan.

5. Ketertarikan abang dan anggota OAI di bidang budaya, yang mana Terlihat lambang OAI sangat kental dengan folosofi budaya nusantara, bisa dishare info mengenai hal itu
dan bagaimana makna tentang nusantara sendiri menurut OAI?

Jawab:

Lambang OAI yang terdiri dari matahari bersudut delapan penjuru mata angin, menyiratkan bahwa OAI akan selalu bangkit berjaya dalam tugasnya memberi pencerahan dan menyinari masyarakat pencari keadilan. Di tengah-tengahnya terdapat senjata trisula yang merupakan senjata sakti di dunia pewayangan yang akan mampu menumpas kezaliman dan kesewenang-wenangan.

Lambang matahari/surya bersudut delapan penjuru mata angin seperti lambang kerajaan Majapahit dan kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia umumnya. Lambang surya bersudut delapan  tersebut terbentuk karena dua wajik yang mana wajik juga merupakan perlambangan yang sangat kental dan terdapat dalam setiap simbol-simbol pakaian maupun bangunan pada suku-suku bangsa yang ada di Indonesia.

OAI tidak memakai lambang timbangan ataupun dewi keadilan, karena menurut OAI dengan adanya senjata trisula dan matahari hal tersebut sudah cukup menyiratkan kerja-kerja OAI dalam menumpas ketidakadilan dan menyinari masyarakat dengan memberikan pemahaman-pemahaman hukum dalam tugasnya memperjuangkan  hak-hak dan keadilan bagi masyarakat.

Jika diperhatikan lambang trisula OAI, memiliki sudut-sudut yang sangat tajam sehingga menggambarkan jika menusuk sangat tajam hingga ke jantung, dan tidak dapat ditarik kembali, karena jika ditarik kembali-pun akan merobek lebih luas lagi karena terdapat sudut-sudut yang tajam pada bagian belakangnya.

Lambang trisula ini memiliki mitologi tidak saja pada suku-suku bangsa yang ada di Indonesia. Berikut ini literature yang ada antara lain:

Di dalam ajaran Hindu, Trisula ini adalah merupakan senjata Dewa Siwa, yang merupakan dewa tertinggi.

Begitu pula dalam mitologi Yunani-Romawi, Poseidon (Neptunus) dewa peguasa laut selalu membawa TRISULA. Dalam kebudayaan Mikenai, Poseidon adalah dewa utama, dan mungkin lebih utama dibanding Zeus.

Trisula juga digunakan sebagai senjata utama oleh tentara Korea masa lalu.

Dalam ramalan jayabaya, kelak akan datang SANG RATU ADIL yang bersenjatakan TRISULA sebagaimana dikutip dari Bait 159-168:

“selet-selete yen mbesuk ngancik tutup ing tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu bakal ana dewa ngejawantah apeng Awak manungsa apa surya padha bethara Kresna watak Baladewa agegaman trisula wedha jinejer wolak-waliking zaman wong nyilih mbalekake,wong utang mbayar utang nyawa bayar nyawa utang wirang nyaur wirang”

yang artinya:

“selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun (sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu) akan ada dewa tampil Berbadan manusia berparas seperti Batara Kresna berwatak seperti Baladewa bersenjata TRISULA WEDHA tanda datangnya perubahan zaman orang pinjam mengembalikan, orang berhutang membayar hutang nyawa bayar nyawa hutang malu dibayar malu”

NUSANTARA menurut OAI, merupakan suatu yang Agung. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan kebudayaan yang tidak dimiliki oleh banga lain. Sehingga seharusnya kita bangga dengan kebudayaan tradisional kita sendiri. Oleh karena itu dalam setiap karakter tindakan dan tugas-tugas OAI, senantiasa menampilkan ciri khas kebudayaan tradisional yang terdapat di Indonesia dan menghormati kearifan lokal pada tiap-tiap daerah. Misalnya saja dalam acara pelatihan di Bandung, OAI mementaskan acara budaya Tradisional sunda berupa musik tarawangsa beserta tariannya. Begitu pula dalam setiap kegiatan OAI selalu memanfaatkan momen untuk melestarikan kebudayaan tradisional kita.

Terlepas perdebatan apakah kisah Mahabrata dan bahasa sansekerta adalah berasal dari Indonesia sendiri atau India, slogan OAI “dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge“ diambil dari percakapan antara Arjuna dengan Khrisna dalam kisah Mahabarata di mana pada saat perang Barathayuda, Arjuna meminta nasihat-nasihat dari Khrisna untuk meneguhkan hatinya dalam pertempuran  di ladang kurusetra antara Pandawa dengan Kurawa yang bersaudara.

6. Apa peran OAI dalam perlindungan hukum bagi para penggeliat budaya?

Jawab:

OAI memberikan bantuan hukum baik secara litigasi maupun non litigasi terhadap kegiatan-kegiatan di masyarakat yang berkaitan dengan pelestarian kebudayaan nasional. Selain itu OAI juga melaksanakan kegiatan kampanye seperti pelatihan dan mengadakan seminar-seminar yang berkaitan dengan hukum dan kebudayaan, maupun melakukan pendampingan memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat yang tersangkut permasalahan hukum dalam aktivitasnya melindungi/melestarikan budaya nasional. OAI juga melakukan advokasi kebijakan di mana saat ini mengupayakan diundangkannya Undang-Undang Perlindungan pengetahuan dan ekspresi kebudayaan tradisional.

7. Sebagai Advokat yang pernah menjadi kuasa hukum salah satu yayasan budaya yang menangani kasus mereka, apa pendapat pribadi abang dengan begitu maraknya pemberitaan mengenai isu nusantara adalah Alantis dan awal mula Peradaban…?

 Jawab:

Isu nusantara adalah atlantis dan awal mula peradaban, ada sisi positif dan negatifnya. Sisi positifnya, membangun semangat nasionalisme akan kebesaran kebudayaan dan tradisi leluhur/nenek moyang kita sehingga akan menimbulkan rasa bangga terhadap sejarah peradaban bangsa dan bangga terhadap produk-produk yang berasal maupun dibuat oleh bangsa kita sendiri.

Namun sisi negatifnya, timbul penyesatan publik dan isu-isu yang tidak benar. Misalnya saja suatu penemuan yang dikait-kaitkan dengan cerita berdasarkan rekaan semata tanpa pembuktian ilmiah dan empiris.

Lucunya, isu awal peradaban di Indonesia akhir-akhir ini justru dihembuskan oleh orang luar seperti Prof. Stephen oppenheimer, dan Prof. Aryo Santos, mengapa tidak dari anak bangsa sendiri yang melakukan penelitian yang mampu menggegerkan dunia internasional dan menyatakan bahwa sejarah bangsa kita adalah bangsa yang berperadaban tinggi, luhur dan kuat.

8. Dengan pemberitaan yang begitu gencar berbagai media beberapa tahun silam mengenai Fenomena di duga di temukannya bangunan piramid yang tertimbun dalam suatu gunung, apakah dampak terburuk dapat menggiring pembaca pada pembentukan Opini publik, bagaimana tanggapan abang?

Jawab:

Fenomena akhir-akhir ini mengenai adanya pyramid yang tertimbun di gunung-gunung Indonesia seperti gunung padang, gunung lalakon, gunung sadahurip, dll., seperti jawaban saya dalam pertanyaan nomor 7 di atas, berdampak buruk dijadikan komoditas dan penyesatan publik semata. Isu tersebut menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, namun sayangnya minim pembuktian dan hasil-hasil konkretnya. Sampai-sampai pemerintah juga terlibat dalam fenomena ini namun faktanya hingga saat ini tidak menghasilkan penemuan yang konkret dan jelas. Dan belum satupun ditemukannya piramid di dalam perut gunung tersebut.

9. Apa yang menjadi harapan dan andil yang akan di tempuh abang dalam turut serta mengawali revolusi budaya di Indonesia, hal itu bila abang setuju dengan term Revolusi budaya dimana akhir-akhir ini begitu giatnya oponen anak bangsa begitu menggelora kembali mencari jati diri dengan mempelajari Sejarah dan kerafian local?

Jawab:

Yang menjadi harapan dan andil saya adalah dengan revolusi budaya akan mengerus/mengikis  budaya asing yang kini telah mengakar dalam setiap aspek kehidupan kita. Dari hal-hal yang kecil saja kita tidak sadar bahwa selama ini kita telah terjajah dan dijadikan komoditas oleh bangsa asing. Perhatikan saja dari pakaian yang terpakai oleh anda saat ini, apakah terdapat unsur-unsur kebudayaan tradisonal kita didalamya? Untuk kemeja batik saja, dulu jika dipakai sehari-hari merupakan hal yang aneh dan tidak lazim di masyarakat. Baru sekitar tahun 2006-an kemeja batik marak dipakai dalam aktivitas sehari-hari, itupun setelah melalui kampanye yang lama.

Diundangkannya Undang-Undang hak cipta dan sejenisnya dalam bidang hak kekayaan intelektual, apakah benar untuk melindungi bangsa kita atau untuk justru untuk melindungi kepentingan asing?  Sedangkan untuk kepentingan kebudayaan kita sendiri hingga saat ini belum ada undang-undang yang melindungi mengenai forklore dan pengetahuan ekspresi kebudayaan tradisional asli suku-suku yang ada di wilayah Indonesia. Jikapun disebutkan sedikit mengenai forklore di dalam UU Hak Cipta, pasal tersebut tidak mampu melindungi pengetahuan dan ekspresi kebudayaan tradisional kita. Buktinya akhir-akhir ini kebudayaan kita sering di klaim oleh Malaysia. Tidak ada pendataan yang komprehensif mengenai pengetahuan kebudayaan tradisional kita. Selain itu, sedikit demi sedikit anak cucu kita semakin melupakan khazanah kebudayaan tradisional kita akibat ketiadaan aturan yang mampu melindunginya, serta kurang perdulinya masyarakat untuk melestarikan kebudayaannya sendiri yang justru lebih gampang menerima kebudayaan asing,

Dengan mempelajari sejarah dan kearifan lokal budaya tradisional, kita akan menyadari bahwa betapa agung dan luhurnya nilai-nilai kebudayaan yang berasal dari bangsa kita sendiri. Semangat tersebut akan memacu kita bagaimana agar bangsa ini mampu bersaing dalam kancah internasional dalam bidang apapun.

10.Bagaimana mengantisipasi pihak luar yang selalu bisa dengan leluasa mengklaim budaya nusantara sebagai warisan milik mereka?

Jawab:

Untuk mengantisipasi pihak luar mengklaim budaya nusantara kita, seharusnya ada aturan yang mewajibkan pemerintah untuk melakukan pendataan dan pendaftaran seluruh warisan budaya nusantara baik ke dalam tingkat local/daerah dan nasional serta internasional melalui badan Unesco. Namun sayangnya hingga saat ini masih banyak hasil ekspresi kebudayaan nusantara tersebut yang belum didaftarkan.

Selain itu, dengan belum diundangkannya Undang-Undang Perlindungan Pengetahuan dan Ekspresi Kebudayaan Tradisional, akibatnya hingga saat ini tidak ada payung hukum yang kuat yang mampu melindungi warisan budaya nenek moyang kita. Oleh karena itu undang-undang tersebut dirasakan sangat perlu.

11.Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa banyak literatur dan pusaka nusantara yang kini berada di luar negeri, bagaimana metode terbaik tuk mengembalikan aset bangsa ini?

Jawab:

Di belanda, bahkan terdapat satu gedung bertingkat tinggi yang isinya kumpulan literature dan benda-benda bersejarah yang berasal dari Indonesia. Belum lagi benda-benda warisan budaya kita yang berada pada pihak swasta di Belanda.

Warisan literature dan benda-benda bersejarah milik nenek moyang kita tersebut penting dikembalikan kepada kita guna dipelajari sejarah asal muasal suku dan adat istiadat kebudayaan kita yang terjadi pada masa lampau tersebut  oleh peneliti kita sendiri. Buku-buku sejarah yang kita pelajari saat ini kebanyakan ditulis oleh peneliti Belanda yang dapat saja dimanipulatif demi kepentingan pemerintah kolonial Belanda yang saat itu menjajah Indonesia.

Metode terbaik untuk mengembalikan asset bangsa ini adalah dengan adanya kemauan pemerintah (political will) secara resmi melalui hubungan diplomatic meminta kepada pemerintahan Belanda agar asset tersebut dikembalikan. Namun sayangnya political will ini belum pernah dilaksanakan.

Atas adanya pengabaian oleh Pemerintah Indonesia tersebut dapat saja perorangan atau kelompok yag bernaung dalam suatu yayasan atau perkumpulan-perkumpulan pecinta budaya yang memiliki visi dan misi melestarikan budaya, mengajukan gugatan kepada Pemerintah Belanda secara langsung. Namun hal ini juga belum pernah dilakukan. Ke depan OAI bersama elemen-elemen masyarakat pecinta budaya tersebut berencana untuk melakukan langkah hukum terkait pengembalian asset bangsa yang tak ternilai tersebut.

Padahal, warisan kebudayaan tradisional bangsa tersebut adalah hak kita untuk dikembalikan. Dan secara konstitusional Negara kita harus melindunginya dan merupakan hak bagi rakyat sebagaimana Pasal 28I UUD 1945 menyebutkan:

“Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban.”

Pemerintah juga mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan memajukan kebudayaan secara utuh untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehubungan dengan itu, seluruh hasil karya bangsa Indonesia, baik pada masa lalu, masa kini, maupun yang akan datang, perlu dimanfaatkan sebagai modal pembangunan. Sebagai karya warisan budaya masa lalu, Cagar Budaya menjadi penting perannya untuk dipertahankan keberadaannya. Hal ini sesuai dengan amanat Pasal 32 UUD 1945 yang menyebutkan:

“Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

 

12. Juga bagaimana dengan aksi penyelundupan berbagai harta warisan nusantara yang sampai kini juga masih terjadi?

Jawab:

Memang sudah merupakan rahasia umum, ada segelintir orang terutama pada kalangan atas yang memperdagangkan benda-benda cagar budaya. Merupakan tanggung jawab Negara untuk menindak orang-orang yang memperjual belikan benda-benda cagar budaya karena tindakan tersebut merupakan perbuatan pidana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: