NOTA PEMBELAAN/PLEDOI KASUS PENGGELAPAN DALAM RUMAH TANGGA

BAB I.   PENDAHULUAN

 

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati

Persidangan yang kami banggakan

Marilah terlebih dahulu kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas diberikannya kesempatan, kekuatan dan semangat kepada kita semua, khususnya kepada Tim Penasehat Hukum untuk menyusun dan menyampaikan Nota Pembelaan (Pleidooi) bagi Terdakwa SELVIANE atas Tuntutan (Requisitoir) Jaksa Penuntut Umum, tertanggal 5 Januari 2009, dalam persidangan yang berlangsung pada hari ini, Rabu, 7 Januari 2009, bertempat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, sebagaimana diisyaratkan oleh Pasal 182 ayat (1) KUHAP yang menyebutkan, Setelah pemeriksaan dinyatakan selesai, Penuntut Umum mengajukan tuntutan pidana. Selanjutnya Terdakwa dan atau Penasehat Hukum mengajukan pembelaannya.

Terima kasih kami sampaikan kepada Mejelis Hakim yang mulia, yang dengan bijaksana dan penuh kesabaran serta ketelitian, telah memimpin persidangan dalam memeriksa dan mengadili perkara  atas nama Terdakwa SELVIANE. Juga terima kasih atas sikap Majelis Hakim yang tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah (presumption of innocence), salah satu azas yang menjadi pilar peradilan pidana di Indonesia. Hal tersebut tercermin dari sikap Majelis yang mulia dengan tetap bersikap “netral” selama pemeriksaan persidangan dan Majelis Hakim selalu memberikan kesempatan kepada Jaksa Penuntut Umum maupun Tim Penasehat Hukum untuk memberikan pertanyaan serta pendapat secara adil dan berimbang.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Jaksa Penuntut Umum yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik, dengan tetap berupaya dan bersikap obyektif tanpa melupakan posisinya sebagai Jaksa Penuntut Umum.

Sebagaimana diyakini dalam upaya mencari kebenaran materil dan demi keadilan pada peradilan pidana, bahwa Hakim, Jaksa Penuntut Umum, maupun Penasihat Hukum mempunyai fungsi yang sama walaupun berlainan posisi. Baik Hakim, Jaksa Penuntut Umum, dan Penasihat Hukum sama-sama menjalankan fungsi sebagai aktor dalam upaya menerapkan prinsip-prinsip keadilan dalam peradilan pidana. Sedangkan posisi masing-masing aktor tersebut berbeda, seperti yang dinyatakan oleh Prof. Dr. M. Trapman sebagai berikut:

”Bahwa Terdakwa mempunyai pertimbangan subyektif dalam posisi yang subyektif, Penasihat Hukum mempunyai pertimbangan yang obyektif dalam posisi yang subyektif, Penuntut Umum mempunyai pertimbangan yang subyektif dalam posisi yang obyektif, sedangkan Hakim mempunyai pertimbangan yang obyektif dalam posisi yang obyektif pula.”

(Prof. Mr. Van Bemmelen, Leerboek van Het Nederland Strafprocesrecht, hal. 132, 6e Herziene Druk)

Atas dasar pandangan tersebut di atas, maka jika pandangan kami dalam pembelaan ini berbeda dari apa yang sudah diuraikan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam Surat Tuntutan, maka ini bukanlah sekedar untuk berbeda saja, melainkan memang sungguh demikian seharusnya menurut hukum. Dengan demikian, diharapkan apa yang akan kami sampaikan ini dapat membantu Majelis Hakim yang terhormat untuk memperoleh segala informasi, pandangan, analisa fakta dan yuridis yang diperlukan untuk mengambil sebuah putusan yang berkeadilan dan berdasarkan pada kebenaran semata, seperti yang diikrarkan di awal persidangan ini dilaksanakan, yakni; Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Semoga Tuhan menolong kita semua.

 

Yang Mulia Majelis Hakim

Yang terhormat Jaksa Penuntut Umum

Pengadilan adalah benteng terakhir para pencari keadilan, guna memperoleh kebenaran dan keadilan hakiki di bumi pertiwi ini berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan. Namun menjadi sebuah fakta, bahwa ada perbuatan oknum-oknum tertentu yang menjadikan hukum sebagai komoditas, bahwa hukum bisa dibeli sesuai keinginan -Law by order-, Tak terkira akibatnya adalah wajah hukum dan peradilan di Republik ini yang tercoreng. Kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum dan pengadilan semakin berkurang, seiring dengan pandangannya yang rendah dan melecehkan putusan lembaga-lembaga peradilan yang seharusnya dihormati bersama. Maraknya mafia peradilan telah terkristalisasi bersamaan dengan rasa ketidakpercayaan masyarakat kepada lembaga peradilan. Kita sepakat oknum penegak hukum dan keadilan yang mengkomersilkan atau menyalahgunakan kekuasaan dan wewenangnya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi harus kita sikat dan habisi demi tegaknya keadilan dan kebenaran, ”sekalipun langit runtuh” -fiat justitia ruat cuolum-. Kita percaya pula bahwa masih banyak para penegak hukum dan keadilan yang berhati mulia, diantaranya adalah Majelis Hakim Yang Mulia dalam persidangan ini, yang bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, yang selalu siap dan sigap membangun, memperkokoh dan menegakkan benteng keadilan di bumi pertiwi ini, dalam menjunjung tinggi kewibawaan pengadilan sebagai pemegang amanat suara Tuhan.

Bahwa pada akhirnya terungkap melalui persidangan yang berlangsung selama ini, apa yang semula masih samar dan terkesan dipaksakan untuk diangkat sebagai perkara pidana, sekarang dapat terungkap secara jelas duduk perkara yang sebenarnya. Sekarang ini kita telah dapat dengan mudah dan gamblang mengetahui bagaimana sebenarnya skenario yang dirancang agar dapat menggiring dan menyeret Terdakwa sampai dipaksakan dan didudukkan di kursi pesakitan. Namun demikian, kami sangat yakin bahwa Majelis Hakim Yang Mulia yang menurut William Sheakespeare Hakim adalah wakil Tuhan di muka bumi, akan dapat memberikan putusan yang patut dan layak bagi terdakwa sesuai atau mendekati rasa keadilan atas dasar kebenaran yang hakiki (materielle waarheid).

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati 

 

Guna memudahkan pemahaman, Nota Pembelaan (Pleidooi) ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :

 

BAB I    :  PENDAHULUAN, yang berisi latarbelakang peristiwa/perkara.

 

BAB II   : FAKTA-FAKTA PERSIDANGAN, berisi fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan yang diperoleh melalui keterangan para saksi, termasuk alat-alat bukti lain seperti Surat, Petunjuk dan keterangan Terdakwa.

 

BAB III : ANALISA FAKTA PERSIDANGAN, yang berisi analisa atas fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan menyangkut sejauhmana peran atau keterlibatan Terdakwa berkaitan dengan dakwaan.

BAB IV : TANGGAPAN ATAS TUNTUTAN JAKSA PENUNTUT UMUM, yang berisi tanggapan umum atas dakwaan dan tuntutan pidana oleh Jaksa Penuntut Umum.

 

BAB V   : ANALISA YURIDIS, yang berisi analisis atas unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan terhadap Terdakwa.

 

BAB VI : KESIMPULAN, yang berisi kesimpulan akhir pembelaan sekaligus memuat permohonan kepada Majelis Hakim.

 

BAB VII  : PENUTUP.

I.1.  Latar Belakang

 

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati

 

Sebuah peradilan pidana sesungguhnya memuat karakter yang spesifik dan mulia. Spesifik dan mulia karena titik sentral peradilan pidana adalah sebuah proses yang dijalani untuk menilai ada atau tidaknya sebuah pelanggaran norma, terlepas dari ada atau tidaknya kerugian baik materil maupun immateril. Adapun  peradilan pidana ditujukan untuk mengembalikan rasa keadilan bersama dalam masyarakat menjadikan semua aktor yang terlibat dalam peradilan pidana diwajibkan untuk secara bersama bekerja semata-mata untuk mencari kebenaran yang hakiki, tanpa dikendalikan oleh kepentingan dan keuntungan pribadi semata.

Lebih menarik lagi dalam peradilan pidana ini yang menjadi taruhannya adalah manusia. Pada ujung proses sebuah peradilan pidana, nasib manusia ditentukan di sana. Demikian juga seluruh hasil proses peradilan pidana dalam persidangan ini akan menentukan nasib Terdakwa yang akan terus dibawa seumur sisa hidupnya. Oleh karena itu, amat berperan keyakinan pribadi Hakim atas alat bukti dan barang bukti yang diajukan dalam persidangan ini untuk menjatuhkan pidana.

Persidangan yang dihadapi oleh Terdakwa ini merupakan sebuah ujian atas penerapan prinsip-prinsip pemidanaan. Persidangan akan menguji apakah sebuah permasalahan rumah tangga dapat dialihkan menjadi peristiwa pidana? Lebih jauh lagi, apakah Terdakwa yang berstatus sebagai istri sah dari pemodal usaha keluarga di bidang pengisian ulang air minum ”VITAQUA” dan sekaligus adalah pengelola usaha tersebut, dapat dipidana atas dasar adanya dugaan tindak pidana penggelapan? Terlepas dari perbedaan posisi antara Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum, dan Penasihat Hukum, namun kita semua ada di sini bersama-sama mencari dan berusaha menemukan hukum berdasarkan fakta-fakta persidangan yang ditujukan untuk mencapai kebenaran materil sejati sebagai suatu keadilan.

Bahwa oleh karena itu Penasehat Hukum memandang perlu mengemukakan latar belakang dari perkara ini dengan harapan agar Majelis Hakim yang kami muliakan dapat mempertimbangkan secara komprehensif seluruh aspek yang menyangkut Terdakwa SELVIANE dan kemudian dapat memberikan keputusan yang sesuai dengan rasa keadilan. Latar belakang yang dimaksudkan adalah uraian tentang kehidupan rumah tangga Terdakwa; VITAQUA sebagai usaha bersama keluarga; tugas dan kewenangan Terdakwa dalam pengelolaan Vitaqua; serta peristiwa-peristiwa yang melatarbelakangi Terdakwa sampai disidangkan di pengadilan. 

 

Majelis Hakim yang Mulia

Serta Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati

 

Sebelum diuraikannya latar belakang lebih jauh terkait dihadapkannya Terdakwa di muka persidangan ini, ada baiknya persidangan mengetahui lebih jelas aktor-aktor yang terlibat serta peranannya masing-masing;

Bahwa sesungguhnya, yang menjadi pemeran utama dalam perkara ini adalah terdiri dari tiga orang saja, yakni Selviane selaku Terdakwa, Agustinus Tantohari selaku suami yang saat ini memiliki konflik dengan Terdakwa, dan Egner Konstantin sebagai anak kandung Agustinus Tantohari/anak tiri Terdakwa. Ketiganya tinggal dalam satu ruang lingkup keluarga. Sedangkan pemeran lain yakni saksi-saksi memberatkan yang dihadirkan oleh dan merupakan karyawan Agustinus Tantohari, hanyalah saksi boneka, saksi yang telah diajari terlebih dahulu, saksi yang tidak objektif karena takut kepada atasannya, serta saksi yang tidak mengetahui, mendengar dan melihat langsung terkait tindak pidana yang dituduhkan terhadap Terdakwa Selviane.

Bahwa Terdakwa Selviane sampai saat persidangan ini berlangsung, masih berstatus sebagai istri sah dari Agustinus Tantohari. Terbukti dengan masih berjalannya proses banding pada Pengadilan Tinggi Jakarta, sehingga belum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap terkait gugatan perceraian dan hak asuh anak di antara mereka.

Bahwa sebelum menikah dengan Terdakwa, Agustinus Tantohari telah menikah sebanyak 2 (dua) kali, yang mana dari hasil perkawinan dengan istri kedua melahirkan anak yang bernama Egner Konstantin Tantohari.

Bahwa sejak adanya hubungan perkawinan antara Terdakwa dengan Agustinus Tantohari pada tanggal 27 Februari 2004, maka Egner Konstantin menjadi anak tiri Terdakwa. Sejak perkawinan tersebut, ketiganya tinggal dalam satu rumah di Jl. H. Jian No. 17-19 Rt. 003/007, Cipete Utara, Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, yang mana di sana juga terdapat usaha yang mereka jalankan bersama demi kelangsungan dan penghidupan bagi keluarga. Salah satunya adalah usaha Vitaqua.

Bahwa usaha Vitaqua, didirikan sekitar tahun 2003 semenjak Terdakwa berpacaran dengan Agustinus Tantohari dengan tujuan awalnya adalah sebagai penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari  Selviane dan anak-anak apabila Agustinus Tantohari jadi menikah dengan Selviane. Selain itu, usaha Vitaqua didirikan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi kebangkrutan usaha perkapalan yang dikelola oleh Agustinus Tantohari.

Bahwa atas keterpurukan usaha di bidang perkapalan, Agustinus Tantohari trauma dan didasari kepercayaannya yang selalu gagal di bidang air, maka terhadap usaha Vitaqua segala sesuatunya mengatasnamakan atau meminjam nama Egner Konstantin, termasuk rekening penyimpanan hasil keuntungan dan surat-surat keluar untuk analisis kadar kesterilan air,  akan tetapi kepemimpinan sesungguhnya usaha tersebut adalah Agustinus Tantohari sebagai kepala rumah tangga serta pemilik usaha-usaha keluarga secara keseluruhan.

Bahwa terkait kepemilikan, berdasarkan fakta persidangan modal usaha Vitaqua diperoleh dari uang Agustinus Tantohari, maka secara otomatis ada hak Agustinus Tantohari atas kepemilikan Vitaqua. Konsewensi logisnya, segala macam keuntungan yang diperoleh dari usaha Vitaqua maupun usaha-usaha yang dimiliki Agustinus Tantohari lainnya selama berlangsungnya pernikahan, sebagiannya adalah juga milik Terdakwa Selviane. Selviane berhak atas bagian dari harta bersama yang merupakan harta gono-gini.  

Bahwa Vitaqua adalah usaha di bidang air minum isi ulang, yang mana tidak berbentuk badan hukum formil layaknya PT, UD, CV ataupun badan hukum lainnya.  Hal ini dipertegas dengan fakta di persidangan bahwa pihak Egner ataupun Agustinus tidak dapat memperlihatkan akta pendirian, sehingga jelas bahwa Vitaqua merupakan jenis usaha rumahan biasa atau lazim dikatakan sebagai warung yang pengelolaannya cukup dilakukan oleh anggota keluarga saja. Akan tetapi untuk memudahkan pekerjaan-pekerjaan kasar seperti mengantarkan galon serta membeli peralatan-peralatan, dan tugas-tugas lain, Vitaqua juga mempekerjakan karyawan yang berjumlah sangat sedikit. Terhadap pekerjanya ini tidak ada Perjanjian Kerja ataupun surat pengangkatan sebagai karyawan. Semakin jelaslah bahwa memang Vitaqua hanyalah sebuah usaha warung/toko belaka.

Bahwa Vitaqua didirikan dengan tidak ada struktur kepengurusan, dikarenakan sistem usaha ini menganut sistem kekeluargaan. Oleh karena usaha Vitaqua hanya sekedar usaha rumahan biasa, dan pengelolaan telah menyatu sebagaimana terjalinnya hubungan keluarga secara utuh, maka tidak ada pemilik tunggal dalam usaha itu. Namun pemilik yang pasti adalah keluarga Agustinus Tantohari sebagai kepala keluarga dan Selviane sebagai istri sah yang berhak atas harta bersama dari suaminya.

Bahwa benar sejak awal pendirian, keuntungan Vitaqua disimpan ke dalam rekening atas nama Egner, namun telah dijelaskan tadi bahwa nama yang bersangkutan hanyalah pinjam nama saja, bukan berarti status kepemilikannya adalah nama tersebut. Bahwa setelah kasus ini bergulir tiba-tiba saja Egner mengklaim dirinya sebagai pemilik tunggal perusahaan Vitaqua.

Bahwa seandainya benar Egner Konstantin adalah pemilik usaha Vitaqua -quod none- seharusnya sejak awal Egner selalu memeriksa hasil penjualan/laporan keuangan Vitaqua tersebut, tetapi kenyataannya tidak, karena pemilik sesungguhnya adalah Agustinus Tantohari sebagai kepala keluarga sekaligus pemodal usaha tersebut. Jika benar Egner adalah pemilik dari Vitaqua mengapa dia tidak melakukan tugas-tugas layaknya pemimpin perusahaan? Bahkan saldo terakhir pun dia tidak tahu. Apakah mungkin seorang pemimpin perusahaan tidak tahu laporan keuangan perusahaan dari tahun 2003 s.d 2008? Kalaupun Egner adalah pemilik dari usaha Vitaqua apakah Egner layak untuk melakukan perbuatan hukum, sedangkan ketika Vitaqua didirikan usia Egner masih 19 tahun (belum dewasa), sebagaimana berdasarkan Pasal 330 BW/KUHPerdata anak di bawah umur 21 tahun belum cakap melakukan perbuatan hukum.

Bahwa pada tanggal 21 September 2005 buku tabungan, ATM, buku laporan usaha Vitaqua diserahterimakan dari Umi Kulsum kepada Terdakwa Selviane atas perintah Agustinus Tantohari. Maka sejak tanggal tersebut usaha Vitaqua dikelola dan dijalankan sepenuhnya oleh Terdakwa. Bahwa Terdakwa berwenang untuk melakukan audit keuangan, yakni melakukan penghitungan pemasukan dan pengeluaran keuangan, melakukan kebijakan untuk melakukan pembelian atau pengeluaran terhadap kebutuhan-kebutuhan usaha Vitaqua, dintaranya pembelian peralatan-peralatan. Bahkan terkait penggajian pegawai Vitaqua, Selviane juga yang mengaturnya. Terkait adanya hasil keuntungan yang diperoleh dari Vitaqua karena merupakan usaha keluarga, maka bila ada kebutuhan-kebutuhan lain walaupun tidak menyangkut Vitaqua, misalnya untuk kebutuhan sehari-hari keluarga ataupun untuk kebutuhan usaha lain yang dimiliki Agustinus Tantohari seperti usaha Indobeef, usaha perkapalan, tentu saja terhadap hal tersebut dapat dilakukan pengeluaran dari keuangan Vitaqua. Karena Vitaqua memang usaha keluarga.

Bahwa sejak resminya Terdakwa sebagai istri/ibu rumah tangga di keluarga Agustinus Tantohari, pada benak masing-masing pihak telah mengerti, selain itu juga didasari perkataan Agustinus Tantohari sendiri yang pernah mengatakan keuntungan hasil Vitaqua tersebut boleh digunakan oleh Terdakwa untuk keperluan sehari-hari tetapi kalau Egner membutuhkan uang dan meminta ATM beserta buku tabungannya, agar dipinjamkan kepada Egner dan nanti dikembalikan lagi kepada Terdakwa.

 

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati

Bahwa sebelum konflik yang terjadi antara Terdakwa dengan Agustinus Tantohari, hubungan antara Terdakwa dengan Egner Konstantin baik-baik saja. Hingga akhirnya terjadi perpecahaan rumah tangga antara Terdakwa dengan Agustinus Tantohari ditandai dengan kaburnya Terdakwa dari rumah disertai membawa anak berumur 2 (dua) tahun dari hasil hubungan perkawinan mereka yang bernama Revel, pada tanggal 12 Juni 2008. Bahwa perginya Terdakwa dari rumah memiliki cukup alasan, yakni untuk menghindari Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang kerap kali dilakukan oleh Agustinus Tantohari terhadap Terdakwa.

Bahwa sesungguhnya hubungan personal antara Terdakwa dengan Egner Konstantin hingga saat Terdakwa dilaporkan pidana, tidak pernah ada masalah. Terbukti sebelum laporan pidana yang di lakukan oleh Egner, sama sekali tidak pernah dilakukan teguran ataupun peringatan terlebih dahulu kepada Selviane untuk mengembalikan uang sebesar 10 (sepuluh) juta rupiah. Kelihatan jelas sekali, bahwa laporan Egner Konstantin hanyalah sebagai alat Agustinus Tantohari untuk mencapai tujuannya melampiaskan kebencian, dendam, amarah serta untuk merebut Revel anaknya dengan cara mencari-cari kesalahan Selviane agar dapat dipenjarakan. Selain itu adanya perkara-perkara yang dipaksakan oleh Agustinus Tantohari terlihat jelas dari adanya 2 (dua) laporan kepada kepolisan oleh Agustinus Tantohari, serta 1 (satu) laporan yang dilakukan oleh Egner Konstantin bersamaan dengan gugatan perceraian Agustinus Tantohari yang didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada tanggal 9 Juli 2008.

Bahwa sejak awal timbulnya skenario yang dirancang untuk memenjarakan Terdakwa dalam perkara ini adalah adanya pengambilan uang oleh Terdakwa melalui kartu ATM Egner sebesar 10 (sepuluh)  juta rupiah. Hal ini terlihat jelas dari Surat Tanda Penerimaan Laporan dan Berita Acara Pemeriksaan oleh para saksi, yang mana jumlah uang yang dipermasalahkan adalah sebesar 10 (sepuluh) juta rupiah. Padahal uang tersebut digunakan untuk kepentingan usaha keluarga, yakni dipinjamkan kepada Agustinus Tantohari untuk pembelian Cool Storage pada usaha daging Indobeef yang juga dimiliki keluarga. Dan itupun disuruh oleh Agustinus Tantohari sendiri untuk dipinjamkan dan diambil dari rekening Egner Konstantin melalui Selviane yang saat itu memegang ATM beserta nomor PIN-nya.

Majelis Hakim Yang Mulia, Apakah benar bahwa dalam perkara ini hasrat Pelapor atau orang yang menyuruh melapor untuk menyeret Terdakwa ke penjara hanyalah didasarkan permasalahan uang sejumlah 10 (sepuluh) juta rupiah? -tentu tidak-  Ada maksud lain dan skenario dibalik itu semua. Tentu kita semua tahu siapa yang membuat skenario tersebut. Tak mungkin orang sekaliber dan berpenghasilan lebih, ditandai dengan memiliki banyak usaha yang sukses saat ini,  hanya gara-gara sejumlah uang sebesar 10 (sepuluh) juta rupiah bersikeras untuk menjerumuskan orang lain ke penjara. Maka dari itu marilah kita cermati, sadari dan renungkan. Janganlah kita terbawa dan terpengaruh oleh pelampiasan dendam, amarah dan benci seseorang yang semula kasusnya hanyalah permasalahan rumah tangga semata, berujung kriminalisasi terhadap seseorang. Sungguh besar yang dikorbankan, yang dihadirkan ditengah-tengah kita bersama adalah seorang manusia, seorang perempuan, seorang ibu yang masih memiliki anak balita dan memerlukan kasih sayangnya, sungguh besar nilai kerugian dan kehilangan bagi Terdakwa dan anak balitanya yang tak tergantikan jika dinyatakan bersalah melalui persidangan ini.

Bahwa apa yang kini dialami Terdakwa mendekam pada dinginnya dinding penjara, yang saat ini berada di kursi pesakitan menunggu vonis majelis hakim menyangkut benar/tidaknya tindak pidana yang dituduhkan, hal tersebut tak sebanding dengan sumbangsih dan pengorbanan yang pernah diberikan Terdakwa sebagai seorang istri dalam mengurus suami dan anak-anak, tak sebanding dengan kerelaannya untuk dijauhi oleh keluarga serta orang tuanya sendiri  demi melaksanakan niatnya melangsungkan pernikahan dan hidup dengan suami tercinta pada saat itu. Namun sungguh tidak bisa diterima dengan akal sehat dan hati nurani, ternyata masih ada saat ini seorang suami yang berusaha untuk menjebloskan istrinya sendiri ke dalam penjara dengan berbagai cara, padahal dulu ketika ingin mengawininya berucap cinta dan janji-janji manis.

Demikianlah latar belakang dihadapkannya SELVIANE sebagai Terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ini.

BAB II.  FAKTA-FAKTA PERSIDANGAN

 

Bahwa selanjutnya untuk meluruskan fakta-fakta yang sebenarnya telah terungkap dalam persidangan, dan guna menghancurkan skenario yang direkayasa secara sistematis, yang tidak lain dimaksudkan untuk menggiring opini Majelis Hakim Yang Mulia, agar seolah-olah suatu Tindak Pidana telah terjadi dan Terdakwalah yang bersalah melakukannya, maka dengan tetap berpijak dalam semangat Keadilan berdasarkan Kebenaran (Spirit of Justice) serta dengan mengingat adagium : “LEBIH BAIK MELEPASKAN SEPULUH ORANG YANG BERSALAH DARIPADA MENGHUKUM SATU ORANG YANG TIDAK BERSALAH”, maka selanjutnya kami akan menyampaikan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan selama berlangsungnya pemeriksaan perkara ini secara lengkap.

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami yang hormati  

 

Di dalam persidangan telah dilakukan pemeriksaan terhadap Para Saksi, Terdakwa SELVIANE dan barang bukti berupa surat-surat/dokumen-dokumen, diperoleh Fakta-fakta Persidangan sebagai  berikut :

 

II.1. Keterangan Saksi- Saksi :

 

1. SAKSI EGNER KONSTANTIN TANTOHARI (Mahasiswa, 24 tahun, Saksi Pelapor, Anak tiri Terdakwa, diperiksa pada hari Rabu, 10 Desember 2008)

Saksi Egner Konstantin Tantohari menerangkan di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :

-         Bahwa Saksi mengenal terdakwa dari tahun 2003 dikenalkan oleh Ayah kandungnya;

-         Bahwa Saksi memiliki hubungan keluarga dengan Terdakwa karena Terdakwa adalah istri ke-3 (tiga) dari ayah kandung Saksi yang mana juga sebagai ibu tiri Saksi;

-         Bahwa Ayah Saksi menikah dengan Terdakwa pada Februari 2004;

-         Bahwa sejak Ayah Saksi menikah dengan Terdakwa, Saksi bersama Terdakwa dan Ayah Saksi tinggal serumah;

-         Bahwa usaha Vitaqua didirikan pada tahun 2003. Modalnya adalah uang dari pemberian Ayah Saksi. Modal awal berkisar antara 35 – 40 juta rupiah. Peralatan yang diperlukan saat itu antara lain: filterisasi, galon, tissue, dan lain-lain;

-         Bahwa pada awal pendirian usaha Vitaqua terdiri dari 2 (dua) karyawan. Yang satu bernama Hadi, yang satunya lagi Saksi lupa namanya. Hadi bertugas untuk penjualan;

-         Bahwa Vitaqua bergerak di bidang isi ulang air minum, perizinannya dari Sucofindo.

-         Bahwa sejak awal pendirian usaha Vitaqua, Umi Kulsum telah bekerja dan bertugas untuk melakukan pembukuan Vitaqua. Walaupun pada saat itu Umi Kulsum bekerja sebagai sekretaris pada perusahaan Ayah Saksi di bidang perkapalan;

-         Bahwa Saksi pernah diperiksa di penyidik kepolisian sebanyak tiga kali;

-         Bahwa Saksi mengetahui Terdakwa dihadapkan di persidangan atas laporan Saksi tertanggal 9 Juli 2008, karena Terdakwa melakukan pengambilan uang sebesar 10 (sepuluh) juta melalui kartu ATM BCA milik Saksi;

-         Bahwa Saksi mengetahui ada pengambilan sejumlah uang Rp. 10.000.00- tersebut ketika buku tabungan dan kartu ATM diserahkan dari Terdakwa kepada Saksi melalui Iyan pada tanggal  3 Juli 2008;

-         Bahwa ketika Saksi melihat print out buku tabungan tersebut, ada penarikan uang sebesar Rp. 10.000.000,- secara bertahap pada tanggal 1 Februari 2008 ;

-         Bahwa pada saat pengambilan tanggal 1 Februari 2008 tersebut, buku tabungan beserta kartu ATM ada pada Terdakwa;

-         Bahwa buku tabungan BCA atas nama Saksi beserta kartu ATM-nya, diberikan kepada Terdakwa melalui Umi Kulsum. Pada saat itu dibuatkan berita acara serah terima tertanggal 21 September 2005 yang ditandatangani oleh Umi Kulsum dan Terdakwa;

-         Bahwa pada saat penyerahan tersebut tidak ada ketentuan ataupun petunjuk dari Saksi kepada Terdakwa berkenaan dengan untuk apa penggunaan buku tabungan dan kartu ATM;

-         Bahwa Saksi menyerahterimakan buku tabungan beserta kartu ATM tersebut kepada Terdakwa karena pada saat itu Saksi sibuk kuliah serta ada pekerjaan lain juga di bidang perkapalan milik Ayahnya, sehingga untuk pengelolaan dan pembukuan usaha VITAQUA dipercayakan kepada Terdakwa;

-         Bahwa saksi juga memberitahukan nomor PIN ATM tersebut kepada Terdakwa karena Saksi ada banyak memiliki buku tabungan beserta ATM, jadi supaya saksi tidak lupa;

-         Bahwa Saksi memberitahukan nomor pin ATM secara langsung kepada terdakwa beberapa hari setelah penyerahterimaan ATM dan buku tabungan;

-         Bahwa ketika buku tabungan dan kartu ATM masih berada pada Umi Kulsum, Saksi tidak pernah memberitahukan nomor pin ATM tersebut kepada Umi Kulsum;

-         Bahwa selama buku Tabungan dan kartu ATM berada pada Umi Kulsum, Umi Kulsum tidak diperbolehkan mengambil uang. Saksi ada beberapa kali melakukan pengambilan uang. Saksi meminta dulu dari Umi Kulsum bila mau melakukan pengambilan uang;

-         Bahwa Saksi mengijinkan kepada Terdakwa untuk menyetor uang hasil penjualan Vitaqua;

-         Bahwa uang yang disetorkan ke rekening Saksi berupa uang penjualan Vitaqua yang sudah dikurangi keperluan-keperluan Vitaqua seperti tissue, gallon, filter, dan peralatan-peralatan lain serta dikurangi gaji karyawan;

-         Bahwa selama Terdakwa melakukan pengelolaan dan mencatatkan pembukuan Vitaqua, saksi tidak pernah melihat pembukuan, laporan keuangan, saldo setiap bulannya karena Saksi sangat percaya terhadap Terdakwa;

-         Bahwa selama Terdakwa memegang ATM beserta buku tabungan milik Saksi, Saksi tidak pernah meminjam dari Terdakwa ATM beserta buku tabungan tersebut;

-         Bahwa selama Terdakwa memegang ATM beserta buku tabungan milik Saksi, Saksi tidak pernah mengambil uang melalui ATM dan buku tabungan tersebut;

-         Bahwa Saksi pernah mengajukan permohonan secara pribadi kepada Bank BCA untuk melihat CCTV terkait pengambilan-pengambilan melalui ATM tertanggal di buku tabungan saksi. Pihak Bank mengatakan data CCTV yang ada hanya tiga bulan terakhir;

-         Bahwa Saksi mengetahui Ayah Saksi pernah meminjam uang kepada Terdakwa untuk pembelian Cool Storage, namun saksi lupa berapa harga Cool Storage tersebut;

-         Bahwa Cool Storage adalah tempat penyimpan daging semacam lemari es yang berukuran sangat besar;

-         Bahwa Saksi mengetahui Terdakwa pergi dari rumah sejak tanggal 12 juni 2008;

-         Bahwa Saksi mengetahui adanya Gugatan cerai dari Ayah Saksi terhadap terdakwa;

-         Bahwa Saksi mengetahui anak yang bernama Revel dari hasil perkawinan Terdakwa dengan Ayah Saksi saat ini berada pada keluarga/orang tua Terdakwa;

-         Bahwa ketika buku tabungan dan kartu ATM belum diserahkan Terdakwa melalui Iyan kepada Saksi, atau tepatnya sebelum tanggal 3 Juli 2008, Saksi pernah mendatangi pihak Bank dengan membawa buku tabungan tersebut untuk melakukan penggantian buku tabungan, yang pada tanggalnya sesuai dengan cap di buku tabungan tersebut. Bahwa Saksi pergi sendiri ke Bank tersebut;

-         Bahwa sejak awal diserahterimakannya buku tabungan, kartu ATM dan nomor pin, serta pengelolaan ataupun pembukuan Vitaqua kepada Terdakwa, Saksi tidak pernah mengatakan sekalipun kepada Terdakwa, untuk melarang Terdakwa mengambil uang pada ATM tersebut.

Tanggapan Terdakwa :

-         Bahwa tidak benar penyerahterimaan buku tabungan beserta kartu ATM, serta pengelolaan dan pembukuan Vitaqua selanjutnya dari Umi Kulsum kepada Terdakwa adalah atas perintah Saksi Egner, yang sebenarnya memerintahkan adalah Ayah Saksi bernama Agustinus Tantohari;

-         Bahwa Terdakwa hanya melakukan pengambilan uang sebesar 10 juta, yang lainnya tidak ada;

-         Bahwa tidak benar setelah serah terima buku tabungan beserta ATM kepada Terdakwa tersebut, Saksi Egner tidak pernah melakukan pengambilan uang, karena Saksi Egner sering meminta ATM dari Terdakwa lalu mengembalikan lagi;

-         Bahwa sejak awal diserahterimakan buku tabungan beserta ATM kepada Terdakwa, tidak pernah ada petunjuk ataupun penegasan untuk apa buku tabungan dan ATM tersebut digunakan

-         Bahwa buku tabungan dan ATM tersebut diserahkan kepada Terdakwa oleh pembantu terdakwa yang bernama Asti di rumah.

2. SAKSI UMI KULSUM (Karyawati, 36 tahun, diperiksa pada hari Rabu, 10 Desember 2008)

Saksi Umi Kulsum menerangkan di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :

-         Bahwa Saksi saat ini bekerja di perusahaan Indobeef milik Ayah Kandung Egner. Sebelumnya saksi bekerja sebagai sekretaris di usaha perkapalan milik Ayah Egner dan merangkap bekerja di usaha Vitaqua bertugas melakukan pembukuan dari Tahun 2003-2005;

-         Bahwa Saksi mengetahui adanya laporan kepolisian tentang pencurian dan penggelapan dari Egner. Egner memberitahukan bahwa ia telah melaporkan kejadian tersebut kepolisian karena uangnya sebesar Rp. 10.000.000,- juta telah diambil oleh Terdakwa melalui ATM;

-         Bahwa sejak serah terima pembukuan, buku tabungan dan kartu ATM milik Egner Konstantin dari Saksi kepada Terdakwa Selviane sesuai dengan berita acara tertanggal 21 September 2005, maka sejak saat itu yang melakukan pengelolaan dan pembukuan Vitaqua adalah Terdakwa Selviane;

-         Bahwa Saksi beralasan penyerahterimaan itu dilakukan atas perintah Egner karena kesibukan Saksi melakukan pembukuan Indobeef dan bisnis Perkapalan milik Ayah Egner;

-         Bahwa sejak saat itu yang aktif di Vitaqua adalah karyawan yang bernama Heri untuk bagian penjualan, dan Terdakwa Selviane di bagian pembukuan;

-         Bahwa pada saat serah terima, yang diserahterimakan Saksi kepada Terdakwa Selviane adalah berupa laporan penjualan, buku tabungan BCA beserta kartu ATM Egner Konstantin, peralatan berupa tissue, tutup galon;

-         Bahwa selama buku tabungan beserta kartu ATM milik Egner Konstantin, Saksi tidak pernah melakukan pengambilan uang pada rekening tersebut, Saksi hanya melakukan penyetoran hasil penjualan Vitaqua saja;

-         Bahwa Saksi lupa siapa yang memberikan nomor ATM tersebut kepada Terdakwa Selviane;

-         Bahwa Saksi lupa berapa nomor pin ATM tersebut;

-         Bahwa sewaktu serahterima kepada Selviane, jumlah saldo akhir pada buku tabungan adalah sekitar 32 juta rupiah;

-         Bahwa selama Saksi memegang buku tabungan dan ATM milik Egner Kontantin tersebut hingga sampai penyerahan kepada Selviane-pun sama sekali tidak pernah melakukan pengambilan uang pada rekening tersebut, akan tetapi Saksi lupa dan tidak tahu terkait adanya pengambilan uang tertanggal 20 September 2005 berdasarkan print out buku tabungan;

-         Bahwa selama buku tabungan dan ATM tersebut berada pada Saksi, Egner Konstantin juga sama sekali tidak pernah mengambil buku tabungan dan ATM tersebut dari Saksi, akan tetapi Saksi lupa terkait adanya pengambilan uang tertanggal 20 September 2005 berdasarkan print out buku tabungan.

Tanggapan Terdakwa :

-         Bahwa dari awal Saksi bekerja pada Agustinus Tantohari bukan pada Egner Konstantin;

-         Bahwa pengelolaan Vitaqua beralih kepada Terdakwa adalah atas perintah Agustinus Tantohari, bukan perintah Egner;

-         Bahwa tidak pernah ada perkataan Umi Kulsum kepada Terdakwa terkait adanya larangan untuk mengambil uang pada buku tabungan dan ATM tersebut;

-         Bahwa pada saat serah terima buku tabungan dan ATM, tidak benar diserahkan di kantor dan ada Saksi Christin, yang benar adalah diserahkan oleh pembantu Terdakwa yang bernama Asti dan diserahkan di rumah.

3. SAKSI F.C. HARNADI ALIAS KELIK (Karyawan Vitaqua, 39 tahun, diperiksa pada hari Rabu, 17 Desember 2008)

Saksi Harnadi menerangkan di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :       

-         Bahwa Saksi bekerja di Vitaqua sejak awal berdiri, yang merekrut pada saat itu adalah Agustinus Tantohari;

-         Bahwa Saksi tidak tahu usaha Vitaqua memiliki NPWP ataupun Akta Pendirian;

-         Bahwa terhadap status karyawan Saksi, tidak pernah ada surat perjanjian kerja ataupun surat pengangkatan yang menyatakan bahwa Saksi sebagai karyawan di Vitaqua;

-         Bahwa Saksi bekerja sebagai karyawan Vitaqua di bagian penjualan yang mengisi air ulang Vitaqua dan menagih konsumen;

-         Bahwa Saksi mengetahui adanya pengambilan uang sebesar 10 juta dari rekening Egner karena Egner  yang memberitahukan kepada Saksi dengan memperlihatkan buku tabungannya;

-         Bahwa Saksi tidak mengetahui untuk apa uang tersebut dipergunakan oleh Terdakwa;

-         Bahwa Saksi mengetahui sebelum Terdakwa bertugas melaksanakan pembukuan Vitaqua, sebelumnya yang bertugas adalah Umi Kulsum;

-         Bahwa Saksi setelah mendapatkan uang dari hasil penjualan Vitaqua langsung melakukan menyetorkan kepada Terdakwa;

-         Bahwa Saksi tidak mengetahui adanya penyerahan buku tabungan dan ATM kepada Terdakwa dan tidak tahu kapan tanggal penyerahannya;

-         Bahwa Saksi tidak tahu mengenai adanya penarikan uang melalui ATM oleh Umi Kulsum;

-         Bahwa Saksi mengetahui penggantian pengelolaan dan pembukuan Vitaqua kepada Terdakwa karena Umi Kulsum sibuk menjadi staff pembukuan dan keuangan usaha-usaha Agustinus Tantohari lainya;

-         Bahwa Saksi mengetahui adanya pergantian pengelolaan Vitaqua dari melihat berita acaranya saja;

-         Bahwa Saksi tidak tahu-menahu mengenai keuangan Vitaqua;

-         Bahwa Saksi mengetahui pemilik Vitaqua tersebut yang mengatasanamakan Egner berdasarkan keterangan dari Succofindo terkait keterangan kadar kandungan air isi ulang tersebut berdasarkan hasil labotarium;

-         Bahwa Saksi mengetahui kerugian Egner sebesar Rp.10.000.000,- pada Tanggal 5 juli 2008 karena Egner sendiri yang mengatakannya kepada Saksi dan memperlihatkan buku tabungannya;

-         Bahwa Saksi tidak ingat kapan tanggal pelaporan oleh Egner sebagai pelapor;

-         Bahwa Saksi tidak mengetahui nomor pin ATM Egner;

-         Bahwa Saksi mengetahui usaha kapal dan usaha Vitaqua berada di dalam satu areal di Jl. H. Jian;

-         Saksi menerangkan, bahwa pemilik usaha kapal adalah milik Agustinus Tantohari;

-         Bahwa Saksi tidak mengetahui mengenai adanya pembelian Cool stroge;

-         Bahwa Saksi mengetahui Terdakwa yang melakukan pengeloaan pembukuan keuangan Vitaqua dan yang memberikan Gaji karyawan setiap bulannya.

-         Bahwa Saksi di dalam bekerja diawasi oleh Terdakwa dan hasil penjualan disetor ke Terdakwa.

-         Bahwa Saksi mengatakan Egner Konstantin jarang sekali datang ke depot Vitaqua, Egner hanya datang sesekali saja.

4. SAKSI CHRISTIN RETNO HANDAYANI (Karyawati Indobeef, 44 tahun, diperiksa pada hari Rabu, 17 Desember 2008)

Saksi menerangkan di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :

-         Bahwa Saksi bekerja sebagai karyawan Indobeef milik Agustinus Tantohari sejak tahun 2005;

-         Bahwa Saksi mengetahui tempat usaha Indobeef satu areal dengan Vitaqua;

-         Bahwa Saksi bekerja di bagian pembukuan Akunting;

-         Bahwa Saksi juga bekerja sebagai penjualan di Indobeef;

-         Bahwa Saksi mengetahui  pimpinan Indobeef adalah Agutinus Tantohari;

-         Bahwa Saksi mengetahui Terdakwa sebagai istri Agustinus Tantohari

-         Bahwa Saksi mengatakan Ia tidak pernah berkomunikasi dengan terdakwa;

-         Bahwa Saksi mengetahui Indobeef pernah membeli Cool Storage dua kali hingga saat ini;

-         Bahwa Saksi mengetahui adanya pembelian cool stroge pada bulan Februari 2008;

-         Bahwa Saksi mengetahui yang melakukan pembelian cool storage adalah Agustinus Tantohari

-         Bahwa Saksi tidak ingat/lupa berapa jumlah uang kas pada bulan februari 2008;

-         Bahwa Saksi tidak mengetahui berapa biaya pembelian coolstroge karena uang pengeluaran Indobeef dipegang oleh Umi Kulsum;

-         Bahwa Saksi tidak mengetahui secara rinci atas kerugian yang diderita Egner, Saksi hanya mendengar dari Egner kurang lebih Rp. 10.000.000,-.

5. SAKSI IYAN HERDIANTO (Karyawan Indobeef, Supir, 27 tahun, diperiksa pada hari Rabu, 17 Desember 2008)

Saksi menerangkan di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :

-         Bahwa Saksi bekerja sebagai supir di perusahaan Indobeef;

-         Bahwa Saksi hanya bertugas sebagai pengantar daging;

-         Bahwa Saksi disuruh mengambil buku tabungan dan ATM atas perintah Egner dengan membawa surat kuasa pada hari kamis, tanggal 3 juli 2008, jam 13.00 Wib, pada kediaman Terdakwa di Bogor;

-         Bahwa pada saat serah terima buku tabungan dan ATM dihadapan Ketua RT kediaman Terdakwa;

-         Bahwa Saksi mendengar dan mengetahui Egner kehilangan uang Rp. 10.000.000,- karena Egner yang memberitahukannya dengan memperlihatkan print out buku tabungan bank BCA pada saat diserahterimakan kepada Egner.

6. SAKSI AGUSTINUS TANTOHARI (Suami Terdakwa, Swasta, 50 tahun, diperiksa pada hari Senin, 22 Desember 2008)

Saksi menerangkan tidak di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :

-         Bahwa Saksi awal mengenal terdakwa tahun 2003 dikenalkan oleh temannya;

-         Bahwa berawal dari perkenalan Saksi dengan terdakwa tersebut akhirnya berkomunikasi terus hingga menikahinya Pada Tahun 2004;

-         Bahwa sejak menikah, Saksi bersama Terdakwa dan anak Saksi yang bernama Egner Konstantin tinggal dalam satu rumah;

-         Bahwa Saksi menjelaskan yang membayar uang kuliah Egner Konstantin adalah Saksi sendiri;

-         Bahwa Saksi mempunyai bisnis perkapalan, Indobeef di bidang daging, dan usaha kost-kostan;

-         Bahwa Saksi telah mengajukan gugatan cerai terhadap Terdakwa di pengadilan negeri Jakarta selatan tanggal 9 Juli 2008 dan sekarang sedang menunggu putusan pengadilan tinggi karena adanya  permohonan banding dari Terdakwa;

-         Bahwa Saksi mengatakan hingga saat ini proses cerai tersebut belum selesai;

-         Bahwa Saksi mengetahui melalui satpam, Terdakwa pergi dari rumah pada dini hari tanggal 12 juni 2008;

-         Bahwa atas kejadian tersebut Saksi melaporkan ke pihak kepolisian cilandak tertanggal 22 juni 2008;

-         Bahwa Saksi menjelaskan Vitaqua berdiri tahun 2003 dan umur Egner Konstantin 19 tahun pada saat itu, Egner juga masih sebagai mahasiswa;

-         Bahwa Saksi  mengetahui Terdakwa bekerja pada Vitaqua bertugas sebagai pengelola dan pembukuan keuangan Vitaqua setelah Umi Kulsum;

-         Bahwa Saksi mengetahui sejak September 2005 Buku tabungan dan ATM beserta nomor pin-nya Egner Konstantin diserahkan kepada Terdakwa;

-         Bahwa Saksi tidak tahu kenapa Egner memberikan buku tabungan dan ATM, serta memberikan nomor pin ATM-nya. Yang Saksi tahu sebelumnya-pun Umi Kulsum juga memegang buku tabungan dan ATM;

-         Bahwa Saksi mengetahui Egner memberikan kepercayaan full, tidak setengah-setengah kepada Terdakwa dalam pengelolaan Vitaqua;

-         Bahwa pada tanggal 3 juli 2008, Saksi mengetahui dari anaknya yang bernama Egner bahwa Terdakwa mengambil uang Rp. 10.000.000,- di dalam rekening BCA anaknya. Pada saat itu Egner memperlihatkan kepada Saksi transaksi-transaksi yang terjadi melalui print out di dalam buku tabungan tersebut;

-         Bahwa menurut Saksi nomor pin ATM adalah  bersifat sangat rahasia dan pribadi karena resikonya bila diberikan kepada orang lain maka uang yang ada di dalam ATM tersebut bisa dimakan ”WONG” (orang) lain;

-         Bahwa Saksi tidak pernah menanyakan dan berdiskusi dengan Egner kenapa memberikan buku tabungan Bank BCA dan ATM beserta Nomer PIN-nya;

-         Bahwa benar Saksi sebelum membeli cool stroge, pada tanggal 3 Februari 2008 ada meminjam uang dari Terdakwa untuk pembelian Cool Stotage tersebut, akan tetapi saksi sudah mengembalikan kembali sebesar Rp. 15.000.000,-;

-         Bahwa Saksi membeli cool stroge seharga Rp. 30.000.000,-;

-         Bahwa Saksi tidak ingat tanggal 11 Mei 2008 pernah mengatakan telah meminjam uang dari Terdakwa sebesar Rp. 30.000.000,- untuk pembelian cool storage seharga Rp. 50.000.000,- dihadapan Lily, Dadi, dan Terdakwa ketika berada di satu mobil dalam perjalanan menuju Ancol;

Tanggapan Terdakwa :

-         Bahwa tidak benar uang yang dipinjam Saksi untuk pembelian cool storage dari Terdakwa adalah sebesar 15 (lima belas) Juta rupiah. Uang yang dipinjam Saksi sebenarnya adalah sejumlah 30 juta rupiah yang berasal dari: 10 juta uang Vitaqua dalam rekening Egner Konstantin, 10 juta dari uang Terdakwa dan 10 juta lagi dari uang Revel;

-         Bahwa untuk peminjaman uang sejumlah 10 juta yang diambil dari rekening Egner Konstantin adalah atas perintah Agustinus Tantohari;

-         Bahwa tidak benar Saksi membeli cool storage seharga 30 juta rupiah, harga sebenarnya adalah Rp. 50 juta rupiah;

-         Bahwa Saksi pernah mengatakan kepada Terdakwa, usaha Vitaqua adalah usaha yang dijalankan untuk keperluan-kepeluan Terdakwa dan keluarga. Apabila ada kebutuhan-kebutuhan Terdakwa atau keluarga, Terdakwa diperbolehkan untuk mengambil dari hasil penjualan air minum Vitaqua tersebut.

7. SAKSI LILIH HALIMATU SA’DIAH (Karyawan, 31 tahun, diperiksa pada hari Rabu, 31 Desember 2008 )

Saksi menerangkan di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :

-         Bahwa Saksi kenal dengan Terdakwa karena Terdakwa adalah kakak kandung dari Suami Saksi yang bernama Dadi;

-         Bahwa Saksi pernah tinggal serumah dengan Terdakwa di Bogor;

-         Bahwa Saksi kenal dengan Egner Konstantin karena Egner Konstantin adalah anak dari suami Saksi yang bernama Agustinus Tantohari. Saksi bertemu pertama kali pada saat merayakan acara ulang tahun anak Terdakwa dan Agustinus Tantohari yang bernama Revel;

-         Bahwa Saksi mengatakan sejak saat menikah maka Terdakwa tinggal serumah dengan suaminya yang bernama Agustinus Tantohari;

-         Bahwa saksi mengetahui ada permasalahan Terdakwa dituduh mengambil uang di ATM milik Egner sebesar Rp. 10.000.000,-;

-         Bahwa benar saksi pernah jalan-jalan ke ancol pada tanggal 11 Mei 2008 bersama-sama dengan Agustinus Tantohari, Terdakwa, anak mereka yang bernama Revel, suami Saksi yang bernama Dadi, dan baby sitter yang bernama Ida. Pada saat itu mereka berkendara berada dalam satu mobil dan yang menyetir adalah Suami saksi;

-         Bahwa benar ketika dalam perjalanan tersebut saksi mendengar ada pembicaraan dari Agustinus Tantohari mengenai Cool Storage. Pada saat itu Agustinus Tantohari mengatakan telah membeli Cool Storage bekas, karena tidak mampu membeli yang baru harganya terlalu mahal, sedangkan pembelian cool storage tersebut berasal dari uang pinjaman milik istri dan anak-anaknya;

-         Bahwa Saksi tidak mengetahui berapa besar uang yang dipinjam oleh Agustinus Tantohari dari Terdakwa dan anak-anaknya tersebut;

-         Bahwa benar Saksi setelah perjalanan dari Ancol, saksi kerumah Terdakwa bersama Agustinus Tantohari di Jl. H. Jian, di sana Saksi Cool Storage yang telah di beli. Ukurannya sangat besar, Saksi sendiri bisa masuk ke dalam Cool storage tersebut;

-         Bahwa Saksi mengatakan di Jl. H. Jian terdapat usaha Agustinus Tantohari bersama keluarganya yakni Vitaqua dan usaha Indobeef bergerak di bidang daging;

-         Bahwa Saksi mengatakan Terdakwa sekeluarga tidak berumah tinggal di Jl. H. Jian tersebut, namun untuk menginap sehari-harinya di rumah mereka yang satunya lagi;

-         Bahwa Saksi mengetahui Terdakwa juga dipekerjakan untuk mengelola usaha Vitaqua.

8. SAKSI DADI SUPRIADI (Karyawan, 30 tahun, diperiksa pada hari Rabu, 31 Desember 2008)

Saksi menerangkan di bawah sumpah hal-hal sebagai berikut :

-         Bahwa Saksi kenal dengan Terdakwa sejak kecil karena Terdakwa adalah adik kandung Saksi;

-         Bahwa Saksi mengetahui ada permasalahan keluarga antara Terdakwa dengan Suaminya, serta ada permasalahan bahwa Terdakwa dituduh mengambil uang sebesar Rp. 10 (sepuluh) juta melalui ATM milik Egner Konstantin;

-         Bahwa benar Saksi mendengar dari perkataan Agutinus Tantohari mengenai Cool Storage. Pada Saat perjalanan dari Ancol, di dalam mobil Agustinus Tantohari mengatakan telah membeli Cool Storage bekas karena tidak kuat untuk membeli yang baru harganya terlalu mahal;

-         Bahwa benar Saksi mendengar pada saat itu harga cool storage bekas tersebut adalah seharga Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah);

-         Bahwa benar Saksi mendengar Agustinus Tantohari mengatakan Cool Storage tersebut dibeli dengan cara meminjam uang dari Terdakwa dan anak-anaknya;

-         Bahwa setelah perjalanan dari Ancol, Saksi menuju ke rumah Agustinus Tantohari dan Terdakwa di Jl. H. Jian. Sampai di sana Agustinus Tantohari memperlihatkan Cool Storage yang baru dibelinya.

II.2. Keterangan Terdakwa :

 

4SELVIANE (28 tahun, di periksa pada hari Rabu, 31 Desember 2008)

Terdakwa menerangkan hal-hal sebagai berikut :

-        Bahwa Terdakwa kenal dengan Egner Konstantin sejak Terdakwa masih berpacaran dengan Ayah Egner Pada tahun 2003, yang mana saat ini Terdakwa telah menikah dengan Ayah Egner dan Terdakwa sekarang sebagai ibu tiri Egner Konstantin;

-          Bahwa Terdakwa menikah dengan Agustinus Tantohari pada tanggal 27 Februari 2004;

-          Bahwa Terdakwa sejak menikah dengan Agustinus Tantohari, bersama Agustinus Tantohari dan Egner Konstantin tinggal dalam satu rumah;

-        Bahwa dari hasil perkawinan tersebut melahirkan seorang anak yang bernama Revel saat ini usianya telah mencapai dua tahun;

-        Bahwa keberadaan Revel saat ini berada pada orang tua Terdakwa;

-        Bahwa pada tanggal 12 Juni 2008 Terdakwa pergi meninggalkan rumah karena takut mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Agustinus Tantohari, karena sebelumnya Agustinus Tantohari pernah melakukan KDRT kepada Terdakwa;

-        Bahwa Terdakwa pernah memegang pengelolaan dan pembukuan Vitaqua sejak 21 September 2005. Sebelumnya pembukuan dipegang oleh Umi Kulsum. Agustinus pernah bilang kepada Terdakwa bahwa ia sudah tidak mempercayai Umi Kulsum lagi, maka pembukuan Vitaqua diserahkan kepada Terdakwa ;

-        Bahwa tidak ada perjanjian tertulis ataupun lisan dari Agustinus Tantohari ataupun Egner kepada Terdakwa terkait aturan-aturan dalam pengelolaan Vitaqua yang dilaksanakan Terdakwa;

-        Bahwa Terdakwa pernah menandatangani berita acara serah terima, yang berupa buku tabungan, ATM dan pembukuan Vitaqua dari umi kulsum, tetapi yang menyerahkan berita acara tersebut adalah pembantu Terdakwa yang bernama Asti dan diserahkan di kamar;

-        Bahwa sekitar tiga hari setelah Terdakwa menerima ATM, Egner Konstantin memberitahu nomor pin ATM tersebut kepada terdakwa;

-        Bahwa Terdakwa menyatakan nomor pin ATM diberikan oleh Egner Konstantin dan Sdr. Agustinus Tantohari sendiri yang menyuruh Terdakwa untuk meminta nomor pin kepada Egner Konstantin ;

-        Bahwa Vitaqua adalah milik Agustinus Tantohari bukan milik Egner Konstantin;

-        Bahwa pada tahun 2004 Agustinus Tantohari pernah menyatakan kepada Terdakwa bahwa biaya untuk kebutuhan keluarga serta bila ada keperluan-keperluan pribadi yang Terdakwa butuhkan, boleh diambil dari keuntungan Vitaqua yang ada di dalam rekening Agner Konstantin;

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan Vitaqua didirikan pada saat itu untuk mengatasi usaha Agustinus di bidang perkapalan yang sedang terpuruk, dan nantinya dari hasil penjualan Vitaqua digunakan untuk biaya-biaya kehidupan Terdakwa ketika telah menikah dengan Agustinus Tantohari;

-        Bahwa Agustinus Tantohari pernah mengatakan kepada Terdakwa, untuk usaha Vitaqua, tempat penyimpanan keuangan Vitaqua sengaja melalui rekening Egner, karena apabila Agustinus Tantohari berusaha di bidang air selalu gagal, maka usaha Vitaqua mengatasnamakan anaknya Egner Konstantin walaupun pemilik dan pemodalnya adalah Agustinus Tantohari;

-        Bahwa Terdakwa melakukan pengambilan uang pada rekening Egner Konstantin pada tangal 1 Februari 2008 sebesar Rp. 10.000.000,- adalah perintah dari Agustinus Tantohari karena Agustinus Tantohari pada saat itu kekurangan uang untuk pembelian Cool Storage;

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan pada tanggal 15 Juni 2008, Terdakwa mengambil uang melalui ATM berkisar Rp. 20.630.000,- (dua puluh juta enam ratus tiga puluh ribu rupiah), karena uang tersebut adalah hak Terdakwa selama mengelola vitaqua dan sebagai isteri dari Agustinus Tantohari yang mana sejak Terdakwa pergi dari rumah tidak dinafkahi oleh suaminya (Agustinus Tantohari), Akan tetapi Terdakwa telah mengambalikan uang tersebut pada Tanggal 17 Juni 2008 karena Terdakwa tidak ingin ada masalah lagi ;

-        Bahwa Terdakwa menerangkan pada tanggal 1 Pebruari 2008 Agustinus meminjam uang dari Terdakwa sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) untuk pembelian cool storage, Agustinus meminjam uang dari Terdakwa Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), dari Vitaqua Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dan dari tabungen Revel (anak Terdakwa dan Agustinus Tantohari) Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah);

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan, uang pribadi Terdakwa dan Revel sudah dikembalikan, tetapi uang Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dari vitaqua yang menggunakan ATM atas nama Egner belum dikembalikan ;

-        Bahwa Terdakwa menyatakan, selama ia memegang pembukuan Vitaqua dari 21 September 2005 sampai 3 Juli 2008, hanya dua kali mengambil melalui ATM yaitu tanggal 1 Pebruari 2008 dan 15 Juni 2008, sedangkan pengambilan yang lainnya adalah dilakukan oleh Egner Konstantin sendiri;

-        Bahwa Terdakwa menyatakan rekening tabungan atas nama Egner yang ada pada Terdakwa, dipergunakan secara khusus hanya untuk penyimpanan uang dari penjualan Vitaqua, bukan dari yang lain;

-        Bahwa Terdakwa menerangkan bahwa laporan polisi terhadap dirinya dalam perkara ini bersamaan dengan gugatan cerai yang dilayangkan Agustinus Tantohari yang menggugat Terdakwa, yaitu tanggal 9 Juli 2008 ;

-        Bahwa Terdakwa baru mengetahui dirinya dilaporkan ke kepolisian terkait tuduhan penggelapan uang yang Ia lakukan, ketika memenuhi panggilan berita acara pemeriksaan di kepolisian pada tanggal 24 Juli 2008. Sebelumnya tidak ada teguran terhadap Terdakwa baik dari Egner Konstantin maupun Agustinus Tantohari terkait adanya permasalahan pengambilan uang sebesar Rp. 10.000.000,- melalui ATM Egner Konstantin tersebut;

-        Bahwa Terdakwa menyatakan sebelum tanggal 1 Pebruari 2008, ia tidak pernah menggunakan ATM atas nama Egner Konstantin tersebut;

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan, buku tabungan dan ATM Egner diambil oleh karyawannya dari rumah orang tua Terdakwa karena Terdakwa diancam bahwa Terdakwa tidak boleh menginjak rumah Agustinus Tantohari lagi, jadi Terdakwa membiarkan Iyan untuk mengambil buku tabungan dan ATM tersebut ;

-        Bahwa Terdakwa menerangkan, selama Terdakwa mengelola vitaqua kurang lebih tiga tahun, Egner Konstantin tidak pernah mengecek usaha vitaqua, hanya Agustinus Tantohari, dan pengelolaan Vitaqua diserahkan sepenuhnya kepada Terdakwa ;

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan, biaya hidup sehari-hari untuk keperluan keluarga selama ini diambil dari hasil penjualan vitaqua;

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan selama ATM dan buku tabungan Egner Konstantin dipegang Terdakwa, Egner Konstantin sering meminjam buku tabungan dan ATM tersebut dari Terdakwa;

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan, jenis kartu ATM Egner Konstantin yang ada pada Terdakwa adalah berjenis Paspor BCA Gold. Pada kartu ATM tersebut untuk satu hari dapat dilakukan penarikan maksimal sebesar Rp. 10.000.000,-, dengan sekali penarikan sebanyak Rp. 2.500.000,-;

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan Ia dapat melakukan penarikan uang dari kartu ATM, tetapi bila mau menarik uang lewat buku tabungan Terdakwa tidak bisa, karena yang bisa hanyalah orangnya langsung yang memiliki buku tabungan tersebut;

-        Bahwa Terdakwa menyatakan tidak pernah mengambil uang dalam rekening Egner pada tanggal 19 April 2006 sebesar Rp 17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah). Uang tersebut yang mengambil adalah Egner sendiri, karena Terdakwa tidak bisa melakukan penarikan sejumlah tersebut secara  langsung untuk satu kali penarikan dalam satu hari;

-        Bahwa Terdakwa menyatakan tidak pernah mengambil uang dalam rekening Egner pada tanggal 13 Desember 2006 sebesar Rp. 50.010.000,- (lima puluh juta sepuluh ribu rupiah). Uang tersebut yang mengambil adalah Egner sendiri, karena Terdakwa tidak bisa melakukan penarikan sejumlah tersebut secara  langsung untuk satu kali penarikan dalam satu hari;

-        Bahwa Terdakwa menyatakan tidak pernah melakukan penarikan uang dalam rekening Egner Konstantin tersebut selain pada tanggal 1 Februari 2008 dan 15 Juni 2008, selain itu yang mengambil adalah Egner Konstantin sendiri;

-        Bahwa selama kartu ATM dan buku tabungan atas nama Egner tersebut ada pada Terdakwa, Egner Konstantin tidak pernah melarang Terdakwa agar jangan menggunakan uang yang ada di dalam ATM tersebut;

 

 

BAB III. ANALISA FAKTA PERSIDANGAN

 

Majelis Hakim yang kami muliakan

Yang terhormat Jaksa Penuntut Umum

Pada bab ini akan dibahas tentang fakta-fakta yang diperoleh di persidangan, dihubungkan dengan perbuatan hukum yang telah didakwakan kepada Terdakwa SELVIANE oleh Jaksa Penuntut Umum. Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan hukum apa yang menjadi dasar diajukannya Terdakwa SELVIANE ke depan persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan oleh Jaksa Penuntut Umum, adalah  bahwa dari pemeriksaan terhadap Saksi-saksi dan Terdakwa SELVIANE serta dengan mempelajari alat-alat bukti berupa barang-barang bukti dan bukti surat-surat yang diajukan dalam persidangan perkara ini, maka kami Penasehat Hukum Terdakwa SELVIANE memperoleh kesimpulan tentang peristiwa-peristiwa yang mendahului perkara ini sehingga kemudian SELVIANE diajukan sebagai Terdakwa di depan persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, adalah sebagai berikut:

-        Bahwa sejak tahun 2003 Terdakwa berpacaran dengan Agustinus Tantohari. Pada saat itu kondisi usaha-usaha yang dijalani Agustinus Tantohari, terutama di bidang perkapalan sedang mengalami kemunduran. Sebagai solusi mengatasi kondisi keuangan Agustinus Tantohari yang sedang krisis, dijalankanlah usaha penjualan air minum isi ulang bernama Vitaqua. Selain itu, Agustinus Tantohari menjanjikan kepada Terdakwa, nantinya hasil keuntungan Depot Vitaqua dapat dipergunakan sebagai keperluan sehari-hari Terdakwa ketika sudah menikah dengan Agustinus Tantohari;

-        Bahwa sebelum menikah dengan Terdakwa, Agustinus Tantohari telah melangsungkan pernikahan 2 (dua) kali, yang mana dengan kedua istri tersebut telah bercerai. Melalui istri ke-2  Agustinus Tantohari memiliki anak laki-laki yang bernama Egner Konstantin;

-        Bahwa Vitaqua didirikan dari hasil uang/modal yang diberi oleh Agustinus Tantohari, modal awal berkisar antara 35-40 juta rupiah;

-        Bahwa usaha Vitaqua, tempat penyimpanan keuangan hasil keuntungannya sengaja melalui rekening Egner, karena apabila Agustinus Tantohari berusaha di bidang air selalu gagal, maka usaha Vitaqua mengatasnamakan anaknya Egner Konstantin walupun pemiliknya adalah Agustinus Tantohari;

-        Bahwa Terdakwa menikah dengan Agustinus Tantohari pada tanggal 27 Februari 2004;

-        Bahwa Terdakwa sejak menikah dengan Agustinus Tantohari, maka Terdakwa bersama-sama dengan Agustinus Tantohari dan Egner Konstantin tinggal dalam satu rumah;

-        Bahwa dari hasil perkawinan antara Terdakwa dengan Agustinus Tantohari, melahirkan seorang anak yang bernama Revel saat ini usianya telah mencapai dua tahun;

-        Bahwa Agustinus Tantohari selain memiliki usaha Vitaqua, juga ada usaha lainnya yakni di bidang daging (indobeef), di bidang perkapalan, dan di bidang kost-kostan;

-        Bahwa sejak tanggal 21 September 2005, terjadi peralihan tugas pembukuan Vitaqua dari Umi Kulsum kepada Terdakwa. Pada saat itu dibuatkan Berita Acara Serah Terima yang antara lain diserahterimakannya buku tabungan dan ATM BCA atas nama Egner Konstantin kepada Terdakwa;

-        Bahwa sejak tanggal tersebut, Saksi diberikan kepercayaan sepenuhnya oleh Agustinus Tantohari maupun Egner Konstantin untuk mengelola Vitaqua;

-        Bahwa tidak ada perjanjian tertulis ataupun lisan dari Agustinus Tantohari ataupun Egner kepada Terdakwa terkait aturan-aturan dalam pengelolaan Vitaqua yang dilaksanakan Terdakwa;

-        Bahwa sekitar tiga hari setelah penyerahan ATM beserta buku tabungan, Egner Konstantin memberitahukan pula nomor pin ATM tersebut;

-        Bahwa ketika buku tabungan dan kartu ATM masih berada pada Umi Kulsum, Egner Konstantin tidak pernah memberitahukan nomor pin ATM tersebut kepada Umi Kulsum;

-        Bahwa nomor pin ATM diberikan oleh Egner Konstantin karena Agustinus Tantohari sendiri yang menyuruh Terdakwa untuk meminta nomor pin kepada Egner Konstantin ;

-        Bahwa pernah terjadi pergantian dari buku yang lama ke buku yang baru tabungan BCA atas nama Egner Konstantin pada tanggal 27 Agustus 2007. Pada saat itu yang melakukan pergantian buku di bank adalah Egner Konstantin;

-        Bahwa rekening tabungan atas nama Egner yang ada pada Terdakwa, dipergunakan secara khusus hanya untuk penyimpanan uang dari penjualan Vitaqua, bukan dari yang lain;

-        Bahwa pada tahun 2004 Agustinus Tantohari pernah menyatakan kepada Terdakwa bahwa biaya untuk kebutuhan keluarga serta bila ada keperluan-keperluan pribadi yang Terdakwa butuhkan, boleh di ambil dari keuntungan Vitaqua yang ada di dalam rekening Egner Konstantin;

-        Bahwa pada tanggal 1 Pebruari 2008 Agustinus pernah meminjam uang dari Terdakwa sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh juta rupiah) untuk pembelian cool storage. Agustinus meminjam uang tersebut yakni perinciannya: dari Terdakwa Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah), dari Vitaqua Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dan dari tabungen Revel (anak Terdakwa dan Agustinus Tantohari) Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah);

-        Bahwa Terdakwa menjelaskan, uang pribadi Terdakwa dan Revel sudah dikembalikan, tetapi uang Rp.10.000.000,- (sepuluh juta rupiah) dari vitaqua yang diambil melalui ATM atas nama Egner belum dikembalikan oleh Agsutinus Tantohari;

-        Bahwa Terdakwa melakukan pengambilan uang dari rekening Egner Konstantin pada tangal 1 Februari 2008 sebesar Rp. 10.000.000,- adalah atas perintah dari Agustinus Tantohari untuk pembelian cool storage;

-        Bahwa pada tanggal 11 Mei 2008, Terdakwa, Agustinus Tantohari, Lili, Dadi dan baby sitter Terdakwa bersama Revel pergi berjalan-jalan ke Ancol. Ketika di dalam kendaraan  Agutinus Tantohari bercerita tentang cool storage. Agustinus Tantohari mengatakan telah membeli Cool Storage bekas seharga Rp. 50.000.000,- karena tidak kuat untuk membeli yang baru harganya terlalu mahal. Agustinus juga mengatakan bahwa pembelian Cool storage tersebut adalah dari pinjaman uang Terdakwa dan anak-anaknya. Sepulang dari Ancol, mereka singgah di tempat kediaman Terdakwa bersama Agustinus Tantohari di Jl. H. Jian. Pada saat itu Didi dan Lilih diperlihatkan oleh Agustinus Tantohari cool storage yang telah dibelinya tersebut;

-        Bahwa terjadi konflik rumah tangga antara Terdakwa dengan Agustinus tantohari, yang berujung pada tanggal 12 Juni 2008 Terdakwa pergi meninggalkan rumah karena takut mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Agustinus Tantohari, karena sebelumnya Agustinus Tantohari pernah melakukan KDRT kepada Terdakwa;

-        Bahwa pada saat pergi dari rumah tersebut, Terdakwa juga membawa anaknya bernama Revel yang hingga kini berada dengan orang tuanya di Bogor;

-        Bahwa atas kejadian tersebut Agustinus Tantohari melaporkan kepada pihak kepolisian cilandak tertanggal 22 juni 2008;

-        Bahwa pada tanggal 15 Juni 2008, Terdakwa mengambil uang melalui ATM berkisar Rp. 20.630.000,- (dua puluh juta enam ratus tiga puluh ribu rupiah) lebih, karena uang tersebut adalah hak Terdakwa selama mengelola vitaqua dan sebagai isteri dari Agustinus Tantohari yang mana sejak Terdakwa pergi dari rumah tidak dinafkahi oleh suaminya (Agustinus Tantohari). Akan tetapi Terdakwa telah mengembalikan uang tersebut pada Tanggal 17 Juni 2008 karena Terdakwa tidak ingin ada masalah lagi;

-        Bahwa selama Terdakwa memegang pembukuan Vitaqua dari 21 September 2005 sampai 3 Juli 2008, Terdakwa hanya dua kali mengambil uang melalui ATM yaitu tanggal 1 Pebruari 2008 dan 15 Juni 2008, sedangkan pengambilan yang lainnya dilakukan oleh Egner Konstantin sendiri;

-        Bahwa sebelum tanggal 1 Pebruari 2008, Terdakwa tidak pernah menggunakan ATM atas nama Egner Konstantin tersebut;

-        Bahwa pada tanggal 3 Juli 2008, atas perintah Egner Konstantin, supir yang bernama Iyan disuruh mengambil ATM dan buku tabungan Egner dari Terdakwa yang pada saat itu berada di Bogor;

-        Bahwa ketika Egner Konstantin menerima buku tabungannya dari Iyan, setelah melihat-lihat hasil print out di buku tabungan, ternyata Egner merasa ada kerugian uang sebesar Rp. 10.000.000,- karena diambil oleh Terdakwa;

-        Bahwa Pada tanggal 9 Juli 2008, Egner Konstantin melaporkan Terdakwa ke kepolisian;

-        Bahwa laporan polisi tersebut bersamaan dengan gugatan cerai yang dilayangkan Agustinus Tantohari di pengadilan negeri Jakarta Selatan;

-        Bahwa Terdakwa baru mengetahui dirinya dilaporkan ke kepolisian terkait tuduhan penggelapan uang yang Ia lakukan, ketika memenuhi panggilan berita acara pemeriksaan di kepolisian pada tanggal 24 Juli 2008. Sebelumnya tidak pernah ada teguran terhadap Terdakwa baik dari Egner Konstantin maupun Agustinus Tantohari terkait adanya permasalahan pengambilan uang sebesar Rp. 10.000.000,- melalui ATM Egner Konstantin tersebut;

-        Bahwa selama Terdakwa mengelola vitaqua kurang lebih tiga tahun, Egner Konstantin tidak pernah melakukan pengecekan terhadap usaha vitaqua;

-        Bahwa selama ATM dan buku tabungan tersebut dipegang Terdakwa, Egner Konstantin sering meminjam buku tabungan dan ATM tersebut dari Terdakwa;

-        Bahwa jenis kartu ATM Egner Konstantin yang ada pada Terdakwa adalah berjenis Paspor BCA Gold. Pada kartu ATM tersebut untuk satu hari dapat dilakukan penarikan maksimal sebesar Rp. 10.000.000,;

-        Bahwa Terdakwa hanya dapat melakukan penarikan uang dari kartu ATM, tetapi bila mau menarik uang lewat buku tabungan Terdakwa tidak bisa, karena yang bisa hanyalah orangnya langsung yang memiliki buku tabungan tersebut;

-        Bahwa Terdakwa tidak pernah mengambil uang dalam rekening Egner pada tanggal 19 April 2006 sebesar Rp 17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah). Uang tersebut yang mengambil adalah Egner sendiri, karena Terdakwa tidak bisa melakukan penarikan sejumlah tersebut secara  langsung melalui ATM untuk satu kali penarikan dalam satu hari;

-        Bahwa Terdakwa tidak pernah mengambil uang dalam rekening Egner pada tanggal 13 Desember 2006 sebesar Rp. 50.010.000,- (lima puluh juta sepuluh ribu rupiah). Uang tersebut yang mengambil adalah Egner sendiri, karena Terdakwa tidak bisa melakukan penarikan sejumlah tersebut secara  langsung melalui ATM untuk satu kali penarikan dalam satu hari;

-        Bahwa selama kartu ATM dan buku tabungan atas nama Egner tersebut ada pada Terdakwa, Egner Konstantin tidak pernah melarang Terdakwa agar jangan mengambil uang yang ada di dalam ATM tersebut;

III.1. Analisa Fakta

 

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati

Bahwa ketentuan yang membatasi sidang pengadilan pidana dalam usaha mencari dan mempertahankan kebenaran, baik hakim, jaksa penuntut umum, dan penasehat hukum, semuanya terikat pada ketentuan tata cara dan penilaian alat bukti yang ditentukan oleh undang-undang. Terutama bagi majelis hakim yang mulia, demi mencari kebenaran tersebut, alat bukti haruslah diuji terlebih dahulu dengan cara dan dengan kekuatan pembuktian yang melekat pada setiap alat bukti yang ditemukan.

Dari fakta persidangan yang terungkap sampailah kini kami menyampaikan analisa terhadap fakta terungkap tersebut.

  1. 1.   Bahwa selama proses pemeriksaan saksi, telah dihadirkan sebanyak 8 (delapan) orang saksi oleh Jaksa Penuntut Umum. Dari keempat orang saksi (Umi Kulsum, Haryadi, Christin Retno Handayani, dan Iyan Herdianto), semuanya merupakan karyawan Agustinus Tanotari.  Sedangkan berdasarkan fakta, orang yang paling berkonflik dengan Terdakwa saat ini adalah Agustinus Tantohari, yang juga merupakan ayah kandung Saksi Pelapor/korban (Egner Konstantin).

 

Analisa : Terhadap fakta ini tentu saja keterangan yang telah diberikan keempat saksi tersebut (Umi Kulsum, Haryadi, Christin Retno Handayani, dan Iyan Herdianto) tidak objektif, sangat memihak kepada Agustinus Tantohari dan Egner Konstantin, karena keempat saksi tersebut terikat hubungan kerja sebagai atasan-bawahan dengan Agustinus Tantohari. Dalam persidangan sangat terlihat jawaban keempat saksi telah diatur sedemikian rupa dan semuanya hampir memiliki jawaban yang sama. Saksi telah diajari terlebih dahulu. Selain itu, keempat saksi tersebut hanyalah saksi testimonium de auditu, yakni saksi yang tidak pernah melihat, mendengar dan mengalami sendiri secara langsung kejadian yang sebenarnya, antara lain: kelima saksi tidak pernah melihat dan mendengar langsung Egner Konstantin melarang/tidak mengijinkan Terdakwa melakukan pengambilan uang di dalam ATM a quo; dan tentang kerugian yang dialami Egner tersebut kelima saksi hanya mendengar dan mengetahui dari Egner Kostantin;

  1. 2.   Bahwa Saksi Agustinus Tantohari memberikan keterangan di persidangan tidak di bawah sumpah.

 

Analisa : Oleh karenanya kesaksian Agustinus Tantohari harus dinyatakan ”bukan sebagai alat bukti yang sah” dan ”tidak mempunyai nilai pembuktian” sebagaimana menurut Pasal 185 ayat (7) KUHAP. Selain itu, Agustinus Tantohari memiliki pertentangan yang nyata dengan Terdakwa sehingga Indikasinya sangat kuat untuk memberikan keterangan tidak benar. Segala macam keterangan Agustinus Tantohari yang berdiri sendiri, kontradiktif dan didasari niat jahat untuk menjerumuskan Terdakwa haruslah ditolak dalam persidangan ini.

  1. 3.   Bahwa tidak ada seorang-pun saksi yang pernah melihat, mendengar dan mengetahui bahwa Egner Konstantin pernah melarang Terdakwa  mengambil uang di dalam ATM a quo. Bahkan termasuk Saksi Egner sendiri mengakui tidak pernah melarang Terdakwa.

 

Analisa : Melalui Keterangan yang diberikan oleh Egner Konstantin pada persidangan, didukung dengan Keterangan Terdakwa, bahwa Egner tidak pernah melarang Terdakwa untuk melakukan pengambilan uang pada rekening a quo. Oleh karena tidak adanya larangan, maksud Egner Konstantin memberikan Tabungan beserta ATM beserta nomor pin kepada Terdakwa haruslah dapat diartikan mengijinkan Terdakwa melakukan pengambilan uang pada tabungan beserta ATM tersebut sewaktu-waktu bila diperlukan.

  1. 4.   Bahwa Egner Konstantin memberitahukan kepada Terdakwa nomor pin ATM yang bersifat pribadi dan rahasia.

 

Analisa : Bahwa berdasarkan keterangan Saksi Egner Konstantin didukung oleh keterangan Terdakwa, Egner memberitahukan nomor pin ATM a quo kepada Terdakwa. Oleh karenanya maksud Egner Konstantin memberitahukan nomor ATM yang bersifat pribadi dan rahasia harus dipandang merupakan izin bagi terdakwa untuk melakukan pengambilan uang pada ATM tersebut. Pernyataan ini diambil berdasarkan legal reasoning dan teori sebab-akibat yang mana fungsi dari ATM tidak lain adalah untuk melakukan pendebetan (penarikan/transfer/pembayaran), sedangkan fungsi nomor pin adalah sebagai kunci pembuka (password) agar kartu ATM tersebut dapat digunakan bagi pemegangnya, yang bersifat sangat rahasia. Dengan memberikan ATM beserta nomor pinnya, sama saja memberikan uang di dalam ATM tersebut untuk dapat digunakan. Maka sangat bertentangan (contrario ) dengan logika hukum, bila memberikan ATM beserta nomor pin-nya tetapi melarang ATM tersebut untuk digunakan.

 

  1. 5.   Bahwa Egner Konstantin mengatakan modal pendirian Vitaqua berasal dari pemberian/hadiah Agustinus Tantohari.

 

Analisa : bahwa modal tersebut berasal dari uang agustinus tantohari, maka berdasarkan hukum benda, pada uang/modal tersebut melekat hak kebendaan kepada pemiliknya yakni Agustinus Tantohari. Sedangkan Agustinus Tantohari hingga kini masih hidup sehingga belum dapat dijatuhkan hak waris uang/modal tersebut kepada anaknya. Kalaupun Egner menganggap uang/modal tersebut adalah pemberian Ayahnya sehingga lepas hak kebendaan dari Agustinus Tantohari, pemberian uang/modal tersebut haruslah melalui prosedur hukum yang berlaku yakni melalui hibah, sedangkan tidak ada proses hibah uang tersebut kepada Egner secara resmi. Maka modal/uang tersebut masih melekat haknya pada Agustinus Tantohari. Terhadap keuntungan hasil penjualan Vitaqua, boleh dibagi-bagikan kepada pihak lain yang berhak dengan cara ditentukan terlebih dahulu berdasarkan perjanjian.

  1. 6.   Bahwa dari seluruh keterangan saksi menyatakan Terdakwa adalah pengelola dan bertugas melaksanakan pembukuan keuangan Vitaqua sejak tanggal 21 September 2005.

 

 

Analisa : Oleh karena Terdakwa sebagai pengelola Vitaqua, maka Terdakwa memiliki kewenangan dan kebijakan-kebijakan dalam mengatur Vitaqua baik dari sistem penggajian, pembelian peralatan-peralatan yang diperlukan, dan pengeluaran-pengeluaran lainnya. Cukup beralasan bila ditarik kesimpulan, Egner memberikan buku tabungan beserta ATMnya adalah supaya memudahkan bagi Terdakwa dalam menjalankan Vitaqua untuk mengambil uang dalam tabungan tersebut apabila ada keperluan sehari-hari yang dibutuhkan.

 

  1. 7.   Bahwa Vitaqua tidak berbentuk badan hukum dan pendiriannya tidak melalui pengesahan secara resmi dari instansi/pejabat yang berwenang.

 

Analisa : Dalam persidangan tidak dapat dihadirkan Jaksa Penuntut Umum akta pendirian resmi yang dikeluarkan oleh instansi/pejabat yang berwenang terhadap status badan hukum Vitaqua berdasarkan undang-undang. Oleh karenanya jelas Vitaqua hanyalah usaha dagang biasa atau lazimnya disebut warung/toko/depot. Konsekwensi tidak adanya status badan hukum Vitaqua, maka tidaklah ada pengakuan terhadap pimpinan atau struktur organisasi usaha Vitaqua. Terhadap Vitaqua hanya berlaku hukum kebendaan, yakni siapa pemilik barang melekatlah haknya terhadap barang tersebut. Dalam kasus ini, dari keterangan Saksi Egner Konstantin dan Terdakwa menyebutkan bahwa modal pendirian Vitaqua adalah berasal dari Agustinus Tantohari. Berdasarkan hal tersebut maka jelas sebenarnya pemilik Vitaqua adalah Agustinus Tantohari, bukan Egner Konstantin.

Bahwa Jaksa Penuntut Umum beserta Saksi-saksi telah salah kaprah mengartikan surat keterangan Report of Analisis yang dikeluarkan dari laboratorium PT. Superintending Company Indonesia (Sucofindo) tertanggal 19 Agustus 2003 adalah merupakan izin pendirian terhadap usaha Vitaqua tersebut. Bahwa jelas surat tersebut hanyalah bertujuan untuk memberitahukan hasil analisis kesterilan kadar air yang terkandung, bukan merupakan izin pendirian! Siapapun bisa kalau hanya untuk meminta hasil analisis kandungan air, termasuk Terdakwa. Selain itu, surat ini tidak dapat dijadikan bukti di dalam persidangan karena bukan merupakan surat yang dibuat oleh pejabat yang berwenang.

 

  1. 8.   Bahwa selama Terdakwa mengelola Vitaqua (2005 s/d 2008), Egner Konstantin tidak pernah melakukan pengecekan dan meminta laporan keuangan berkala dari Terdakwa.

 

Analisa : Bahwa Egner mengakui di dalam persidangan didukung oleh keterangan Terdakwa, Sejak diserahkannya pengelolaan Vitaqua kepada terdakwa, Egner  tidak pernah meminta laporan keuangan atau menanyakan segala sesuatu tentang pengelolaan Vitaqua. Secara gamblang Egner mengatakan bahwa selama Vitaqua dikelola oleh Terdakwa, Egner percaya sepenuhnya kepada Terdakwa mengenai pengelolaan vitaqua. Dari fakta tersebut di atas, mengenai adanya  kerugian/keuntungan Egner tidak berkeinginan untuk tahu, dan terkait adanya pengambilan melalui rekening Vitaqua selama ini Egner juga tidak ada keinginan mengetahuinya, bahwa benar kiranya kasus ini baru bergulir ketika timbulnya konflik perceraian dan perebutan anak antara Terdakwa dengan Agustinus Tantohari. Bahwa selama periode Terdakwa mengelola Vitaqua sampai dengan Terdakwa pergi meninggalkan rumah, berdasarkan printout buku tabungan BCA, ada banyak dilakukan penarikan. Diantaranya: Pada tanggal 29 Desember 2005, tanggal 19 April 2006, tanggal 21 Juli 2006, tanggal 13 Desember 2006, tanggal 13 Januari 2007, tanggal 21 Februari 2007, tanggal 23 Februari 2007, tanggal 9 Juli 2007, tanggal 1 Februari 2008, tanggal 31 Mei 2008, tanggal 15 Juni 2008. Maka bila dihitung-hitung selama periode 21 September 2005 s/d 12 Juni 2008 (2 tahun 8 bulan) terdapat 11 kali penarikan. Periode yang begitu lama dengan 11 kali penarikan tersebut apakah masuk akal bila benar Egner sebagai pemilik Vitaqua -quod none- tidak melakukan pengecekan terhadap data keuangan Vitaqua yang ada pada rekening BCA nya? Dari fakta tersebut dapat ditarik premis mayor : ”bahwa selama Terdakwa mengelola Vitaqua, kapanpun Terdakwa diperbolehkan/diizinkan untuk melakukan penarikan uang melalui ATM a quo.” Selain itu, bila benar Egner sejak dahulu melarang Terdakwa untuk melakukan pengambilan uang via ATM a quo -quod none- pastinya sudah sejak dahulu Egner melaporkan Terdakwa ke Kepolisian, bukan sejak konflik rumah tangga antara Terdakwa dengan Agusitnus Tantohari yang terjadi sekarang-sekarang ini.

 

  1. 9.   Bahwa adanya pelaporan pidana terhadap Terdakwa tidak diketahui sama sekali sebelumnya oleh Terdakwa.

 

Analisa : Bahwa berdasarkan tempus delictie sebagaimana yang dituduhkan oleh Jaksa Penuntut Umum, perbuatan berlanjut Terdakwa melakukan penarikan uang di ATM tanpa izin adalah di antara periode 21 September 2005 s/d 3 Juli 2008. Salah satunya yang menjadi fokus utama dalam kasus ini adalah penarikan uang sebesar Rp. 10.000.000,- pada tanggal 1 Februari 2008. Maka bila didasarkan pada tanggal 1 Februari 2008 dan tidak beberapa lama sesudahnya, pada saat itu antara Terdakwa dengan Egner Konstantin tidak ada permasalahan. Terbukti selama kurun waktu sampai bulan Juli 2008 (5 bulan setelah penarikan a quo) tidak ada teguran/complain terhadap Terdakwa. Bahkan sampai dilaporkanya Terdakwa kepolisian-pun tidak ada teguran terhadap Terdakwa. Dilihat dari selang waktu Egner Konstantin menerima buku tabungan beserta ATM tertanggal 3 Juli 2008, begitu cepat pelaporan terhadap Terdakwa ke kepolisian yang dilakukan tanggal 9 Juli 2008 -hanya 6 hari- tanpa dilakukan somasi atau teguran terlebih dahulu terhadap Terdakwa. Kasus ini baru mencuat ketika terjadi konflik rumah tangga antara Terdakwa dengan Agustinus Tantohari, yakni sejak Terdakwa pergi meninggalkan rumah. Mulai saat itu dicarilah kesalahan-kesalahan untuk dapat mencelakai dan menjerumuskan Terdakwa ke penjara. Dibikinlah perencanaan yang sistematis sebelumnya oleh Agustinus Tantohari untuk dapat menyeret Terdakwa ke penjara. Semakin nyatalah bahwa kasus ini bergulir atas skenario Agustinus Tantohari. Selain itu, upaya untuk menjerat Terdakwa agar dapat dipidana juga sudah beberapa kali dilakukan oleh Agustinus Tantohari, diantaranya pelaporan terhadap Terdakwa di Polsek Cilandak ketika Terdakwa pergi meninggalkan rumah dan saat ini juga ada pelaporan lain di polda, yang mana laporan tersebut baru diketahui Terdakwa setelah penyidik kepolisian dari Polda mendatangi Rutan Pondok Bambu untuk melakukan BAP terdakwa. 

  1. 10.    Bahwa hasil penjualan air minum Vitaqua yang disetorkan ke dalam rekening aquo selama Terdakwa mengelola Vitaqua, merupakan harta yang diperoleh Agustinus Tantohari ketika telah menikah dengan Terdakwa.

 

Analisa : Bahwa ketika Terdakwa menikah dengan Agustinus tantohari, segala harta yang didapat sejak pernikahan oleh masing-masing pihak menjadi harta gono-gini atau harta bersama. Sebelum menikah antara Terdakwa dan Agustinus Tantohari tidak pernah mengadakan perjanjian pranikah. Berdasarkan fakta bahwa Rekening BCA a quo hanyalah berisi uang setoran hasil penjualan Vitaqua, sedangkan Vitaqua modalnya berasal dari Agustinus Tantohari. Bahwa oleh karena Vitaqua melekat hata kekayaan Agustinus tantohari, maka segala keuntungan yang terdapat pada Vitaqua semenjak Terdakwa menikah dengan Agustinus, juga melekat sebagian harta milik Terdakwa. Maka segala keuntungan hasil penjualan Vitaqua yang didapat sejak Terdakwa menikah dengan Agsutinus Tantohari dan selama Terdakwa mengelola Vitaqua (2004 s/d sekarang) juga melekat harta Terdakwa;

  1. 11.    Bahwa sejak awal kasus bergulir, uang yang dipermasalahkan oleh Egner Konstantin adalah hanya sebesar Rp. 10.000.000,-

 

Analisa : Bahwa ketika pertamakali diterimanya buku tabungan a quo oleh Egner Konstantin pada tanggal 3 Juli 2008, Egner langsung melihat rincian transaksi keluar-masuk pada buku tabungan a quo. Pada saat itu secara spontan Egner mengatakan kepada Saksi Iyan bahwa ada sejumlah penarikan tanpa persetujuan Egner berjumlah Rp. 10.000.000,-. Selain itu juga kepada semua Saksi, Egner mengatakan Ia mengalami kerugian sebesar Rp. 10.000.000,- Begitu pula ketika Egner melapor ke kepolisian, uang yang dipermasalahkan juga sebesar Rp. 10.000.000,- (vide Berita Acara Pemeriksaan Saksi Agner Konstantin tertanggal 9 Juli 2008). Akan tetapi barulah selanjutnya pada BAP tambahan tanggal 21 Juli 2008 Egner memberikan keterangan kepada Penyidik ada penambahan kerugian yang diderita Egner selain uang 10 (sepuluh) juta tersebut. Kenapa pernyataan ada kerugian selain 10 (sepuluh) juta rupiah tersebut sangat terlambat? Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya dalam perkara ini Terdakwa hanya memiliki masalah dengan Egner terkait uang Rp. 10.000.000,-, sedangkan uang selain 10 juta tersebut hanyalah rekaan Egner dan/atau atas saran orang lain untuk dapat menjerat Terdakwa agar lebih kelihatan kesalahannya berlapis-lapis.

  1. 12.    Bahwa pembelian cool storage seharga Rp. 50.000.000,- oleh Agustinus Tantohari berasal dari pinjaman uang Terdakwa, Revel dan Vitaqua sebesar Rp. 30.000.000,-

 

Analisa : Bahwa Keterangan di atas berdasarkan keterangan Terdakwa didukung oleh Keterangan Saksi Didi dan Lilih. Bahwa pengambilan uang Rp. 10.000.000,- melalui ATM BCA a quo yang dilakukan oleh Terdakwa adalah atas perintah Agustinus Tantohari. Karena saat itu Agustinus Tantohari sangat membutuhkan pembelian Cool Storage. Atas perintah Agustinus tersebut dan atas dasar pengetahuan Terdakwa bahwa Agustinus Tantohari-lah sebagai pemilik Vitaqua, maka Terdakwa tidak ragu-ragu untuk mengambil uang melalui ATM a quo. Selain itu, Egner juga tidak pernah melarang Terdakwa melakukan pengambilan uang melalui ATM a quo. Namun terhadap peminjaman tersebut, Agustinus Tantohari belum mengembalikan uang sebesar Rp. 10.000.000,- tersebut kepada Terdakwa untuk disetorkan kembali ke rekening a quo. Oleh karena Vitaqua adalah milik Agustinus tantohari dan yang mengambil uang sebesar Rp. 10.000.000,- dari rekening a quo adalah Agustinus Tatohari sendiri, berdasarkan fakta tersebut maka Terdakwa tidak dapat dipersalahkan.

  1. 13.    Bahwa selain yang diakui Terdakwa, Jaksa Penuntut Umum tidak dapat membuktikan Terdakwalah yang mengambil uang pada rekening a quo.

 

 

Analisa : Berdasarkan fakta persidangan, yang diakui Terdakwa hanyalah penarikan sejumlah uang pada tanggal 1 Februari 2008 dan 15 Juni 2008, oleh karenanya transaksi penarikan uang selain yang diakui terdakwa haruslah dapat dibuktikan kebenarannya oleh Jaksa Penuntut Umum. Sedangkan selama persidangan, tidak ada kepastian dengan didukung satu saksipun yang menyatakan Terdakwa-lah yang mengambil selain pada dua tanggal a quo. Sedangkan Saksi Egner sendiri terbukti berdasarkan printout tabungan pada tanggal 19 April 2006 dan 13 Desember 2006 ada melakukan pengambilan sejumlah uang. Oleh karena itu tindakan Jaksa Penuntut Umum dengan cara meng-generalisasikan seakan-akan Terdakwalah yang melakukan seluruh pengambilan uang selama buku tabungan dan Rekening a quo ada pada Terdakwa, tidaklah dapat dibenarkan. Jaksa Penuntut Umum harus dapat membuktikan seluruh perbuatan Terdakwa. Atas tuduhan tanpa bukti tersebut, Jasksa Penuntut Umum telah menciderai asas praduga tidak bersalah yang kita agungkan bersama.

  1. 14.    Terbukti bahwa Egner Konstantin sering mengambil uang pada rekening a quo, diantaranya transaksi pada tanggal 19 April 2006 sebesar Rp. 17.000.000,-dengan sandi transaksi PBK (tarikan pemindahan) dan 13 Desember 2006 sebear Rp. 50.010.000,- dengan sandi transaksi KAS (tarikan tunai). (Vide bukti buku tabungan yang dikeluarkan oleh bank BCA dengan nomor buku 174325 tertanggal 29 Desember 2003 dengan nomor rekening 6770076542 atas nama Egner Konstantin T.)

 

Analisa : Bahwa benar serah terima buku tabungan dan ATM a quo dari Umi Kulsum kepada Terdakwa sejak 21 September 2005. Selanjutnya ATM dan buku tabungan a quo kembali diserahkan kepada Egner melalui Iyan pada tanggal 3 Juli 2008. Akan tetapi dalam periode 21 September 2005 s/d 3 Juli 2008, secara tegas dinyatakan melalui keterangan Terdakwa pada persidangan bahwa selama masa itu Egner Konstantin sering meminjam ATM dan buku tabungan a quo dari Terdakwa. Di persidangan Egner juga pernah mengakui bahwa ia pernah mengganti buku tabungan tertanggal cap pos pada buku tabungan a quo. Tercantum pada buku tabungan  BCA nomor buku 2975633 diperbaharui pada tanggal 27 Agustus 2007. Bila benar Egner tidak pernah meminjam buku tabungan dan ATM a quo selama periode 21 September 2005 s/d 3 Juli 2008 -quod none-, kenapa buku tabungan tersebut bisa diperbaharui pada tanggal 27 Agustus 2007? Siapa yang memperbaharuinya? Tentu saja sebagaimana kebijakan yang dikeluarkan pihak bank BCA, bahwa yang bisa memperbaharui buku tabungan a quo adalah harus pemiliknya langsung yang datang ke kantor bank BCA. Terhadap fakta ini Egner Konstantin telah berdusta di depan persidangan. 

Bahwa jika benar Egner Konstantin tidak pernah melakukan pengambilan uang melalui rekening a quo -quod none-, mengapa ada penarikan/pendebetan tertanggal   19 April 2006 sebesar Rp. 17.000.000 dengan sandi transaksi PBK (tarikan pemindahan),- dan 13 Desember 2006 sebesar Rp. 50.010.000,- dengan sandi transaksi KAS (tarikan tunai)? Padahal diketahui umum maksimal penarikan uang melalui kartu ATM BCA Gold dalam satu hari hanyalah bisa sebesar Rp. 10.000.000,-, selain itu untuk menarik uang melalui ATM sekali penarikan maksimal hanyalah bisa sebesar Rp. 2.500.000,-.  Bila Terdakwa yang mengambil, jumlah sebanyak tertanggal tersebut tidaklah mungkin bisa melalui ATM. Kalaupun bila Terdakwa mau mengambil uang melalui buku tabungan juga tidak bisa, karena pengambilan uang melalui buku tabungan haruslah si pemilik buku tabungan itu sendiri yang langsung mendatangi petugas teller Bank. Terhadap fakta ini terbukti bahwa Egner Konstantin telah berdusta di depan persidangan.

Berikut ini hasil rekapitulasi pendebetan rekening a quo sejak periode berita acara serah terima (21 September 2005) sampai dengan ATM dan buku tabungan a quo dikembalikan tanggal 3 Juli 2008. Terlihat jelaslah mana saja uang yang diambil oleh Terdakwa dan mana saja uang yang diambil oleh Egner :

1. Pada tanggal 29 Desember 2005 sebanyak 2 kali penarikan. Masing-masing sebesar Rp. 1.250.000,- dengan sandi transasi dan Rp. 950.000,-. Sehingga jumlah seluruhnya Rp. 2.200.000,- (dua juta dua ratus ribu rupiah). sandi transaksi : ATM EGNER YANG MENGAMBIL
2. Pada tanggal 19 April 2006 sebanyak 1 kali penarikan sebesar Rp. 17.000.000,- (tujuh belas juta rupiah). sandi transaksi : PBK (tarikan pemindahan). EGNER YANG MENGAMBIL KARENA TRANSAKSI SEBESAR ITU DAN DI HADAPAN TELLER TIDAK DAPAT DILAKUKAN OLEH TERDAKWA,YANG BISA HANYALAH EGNER SENDIRI
3. Pada tanggal 21 Juli 2006 sebanyak 1 kali penarikan sebesar Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah). sandi transaksi : ATM EGNER YANG MENGAMBIL
4. Pada tanggal 13 Desember 2006 sebanyak 1 kali penarikan sebesar Rp. 50.010.000,- (lima puluh juta sepuluh ribu rupiah). sandi transaksi : KAS (tarikan tunai) EGNER SENDIRI YANG MENGAMBIL. KARENA UANG SEBESAR ITU DAN DIHADAPAN TELLER TIDAK DAPAT DILAKUKAN PENARIKAN TUNAI LEWAT ATM, YANG DAPAT MENGAMBIL ADALAH PEMILIK BUKU TABUNGAN ITU SENDIRI.
5. Pada tanggal 13 Januari 2007 sebanyak 1 kali penarikan sebesar Rp. 8.000.000,- (delapan juta rupiah). Sandi transaksi : ATR (kiriman melalui ATM) EGNER YANG MELAKUKAN
6. Pada tanggal 21 Februari 2007 sebanyak 4 kali penarikan. Masing-masing sebesar Rp. 2.500.000, sehingga jumlah seluruhnya sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). sandi transaksi: ATM EGNER YANG MENGAMBIL
7. Pada tanggal 23 Februari 2007 sebanyak 2 kali penarikan. Masing-masing sebesar Rp. 2.500.000,- dan Rp. 1.500.000,- sehingga jumlah seluruhnya sebesar Rp. 4.000.000,- (empat juta rupiah). sandi transaksi: ATM EGNER YANG MENGAMBIL
8. Pada tanggal 9 Juli 2007 sebanyak 3 kali penarikan. Masing-masing sebesar Rp. 2.500.000,- sebanyak 2 kali dan Rp. 1.000.000,- sebanyak 1 kali. Sehingga jumlah seluruhnya sebesar Rp. 6.000.000,- (enam juta rupiah). sandi transaksi: ATM EGNER YANG MENGAMBIL
9. Pada tanggal 1 Februari 2008 sebanyak 4 kali. Masing-masing sebesar Rp. 2.500.000,- sehingga jumlah seluruhnya sebesar Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Sandi transaksi: ATM TERDAKWA YANG MENGAMBIL, TETAPI DIPERGUNAKAN SEBAGAI PINJAMAN KEPADA AGUSTINUS TANTOHARI UNTUK PEMBELIAN COOL STORAGE
10. Pada tanggal 31 Mei 2008 dilakukan pendebetan sebesar Rp. 2.010.000,-. Sandi  transaksi: DBT EGNER YANG MELAKUKAN
11. Pada tanggal 15 Juni 2008 sebanyak  6  kali penarikan (sandi transaksi : ATM) dan 1 kali pentransferan (sandi transaksi ATR). Masing-masing sebesar Rp. 1.250.000,- sebanyak  3 kali penarikan; sebesar Rp. 2.500.000,- sebanyak 2 kali penarikan; dan sebesar Rp. 500.000,- sebanyak 1 kali penarikan. Selanjutnya dilakukan pentransferan sebesar Rp. 20.630.000,-. Sehingga jumlah seluruhnya sebesar Rp. 29.880.000,-.   TERDAKWA YANG MELAKUKAN, TETAPI LANGSUNG DIKEMBALIKAN LAGI PADA TANGGAL 17 JUNI 2008 DENGAN JUMLAH YANG SAMA

 

BAB IV. TANGGAPAN ATAS TUNTUTAN

JAKSA PENUNTUT UMUM

Bahwa dalam konstruksi Surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum (”JPU”) dibuat secara Alternatif campuran (Alternatif dan Subsidair), yang mana terdiri dari Dakwaan KESATU atau KEDUA masing-masing terdapat primair subsidair. Sehingga apabila JPU telah yakin dengan Primair pada Dakwaan KESATU yang disusunnya, maka JPU tidak lagi berusaha untuk membuktikan Subsidair pada Dakwaan KESATU dan seluruh Dakwaan KEDUA. Begitu pula sebaliknya jika JPU telah yakin dengan Primair pada Dakwaan KEDUA yang disusunnya, maka JPU tidak lagi berusaha untuk membuktikan Subsidair pada Dakwaan KEDUA dan seluruh Dakwaan KESATU.

Bahwa pada Surat Tuntutan/Requisitor dengan berdasarkan keyakinan dan bukti-bukti di persidangan, akhirnya jaksa memilih Dakwaan KEDUA: Primair: Pasal 376 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP yang dijadikan dasar untuk melakukan penuntutan terhadap TERDAKWA.

Namun sebelum membahas tuntutan, kami terlebih dahulu akan mengungkap kesalahan Surat dakwaan yang mana menjadi landasan untuk melakukan penuntutan. Sehingga salah dalam menerapkan dakwaan maka akan salah jua-lah tuntutan yang dikemukakan JPU dalam persidangan. Sebagaimana uraian kami berikut.

 

IV.1. Pengenaan Pasal 367 atau Pasal 376 KUHP tidak dapat berdiri sendiri

 

Bahwa setelah kami cermati secara lebih mendalam, ternyata Jaksa Penuntut Umum telah melakukan kesalahan fatal dalam menyusun dakwaannya sebagaimana dalam surat dakwaan dan tuntutan. Jaksa Penuntut Umum lalai dengan tidak menambahkan Pasal penentu terkait rumusan Pencurian (Pasal 362 KUHP) pada Dakwaan KESATU Primair, dan tidak menambahkan Pasal penentu terkait rumusan Penggelapan (Pasal 372 KUHP) pada Dakwaan KEDUA Primair. Begitu juga sebaliknya menjadi tidak relevan bila pada Dakwaan KESATU Subsidair tidak menambahkan Pasal 367 KUHP ayat (2) KUHP, dan Dakwaan Kedua Sudsidair tidak menambahkan Pasal 376 KUHP yang mana jelas dalam perkara ini terdapat hubungan keluarga antara Pelapor dengan Terdakwa sehingga merupakan lex specialis derogat lex generalie tuduhan yang bisa dikenakan terhadap terdakwa adalah terkait Pencurian dalam Rumah Tangga atau Penggelapan dalam Rumah Tangga.

Bahwa pengenaan Pasal 367 atau Pasal 376 KUHP tidak dapat berdiri sendiri. Bila mau mengenakan Pasal 367 KUHP harus menyertakan Pasal 362 KUHP, begitu pula bila mau mengenakan Pasal 376 KUHP harus pula menyertakan Pasal 372 KUHP.

Untuk lebih jelasnya berikut dalil-dalil kami, yang mementahkan seluruh pasal-pasal dakwaan Jaksa:

-         Bahwa Dakwaan KESATU Primair oleh Jaksa Penuntut Umum menggunakan Pasal 367 ayat (2) KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. Pasal tersebut menjadi tak bermakna/tidak memiliki kekuatan mengikat karena sesungguhnya rumusan pasal terkait pencurian terdapat di dalam Pasal 362 KUHP. Seharusnya Pasal yang dikenakan adalah Pasal 367 ayat (2) jo. Pasal 362 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP;

 

-         Bahwa Dakwaan KESATU Subsidair oleh Jaksa Penuntut Umum menggunakan Pasal 362 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. Pasal tersebut tidak dapat digunakan karena Pasal tersebut untuk Pelaku/Terdakwa yang tidak ada hubungan keluarga dengan korban, sedangkan secara lex specialis dalam perkara ini terdapat hubungan keluarga antara Terdakwa dengan korban, dibuktikan dengan Terdakwa adalah ibu tiri dari korban/pelapor (Egner Konstantin);

-         Bahwa Dakwaan KEDUA Primair oleh Jaksa Penuntut Umum mengenakan Pasal 376 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. Pasal tersebut juga menjadi tak bermakna/tidak memiliki kekuatan mengikat karena sesungguhnya rumusan pasal terkait penggelapan terdapat di dalam Pasal 372 KUHP. Seharusnya Pasal yang dikenakan adalah Pasal 376 jo. Pasal 372 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP;

-         Bahwa Dakwaan KEDUA Subsidair oleh Jaksa Penuntut Umum menggunakan Pasal 372 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. Pasal tersebut juga tidak dapat digunakan karena Pasal tersebut untuk Pelaku/Terdakwa yang tidak ada hubungan keluarga dengan korban, sedangkan secara lex specialis dalam perkara ini terdapat hubungan keluarga antara Terdakwa dengan korban, dibuktikan dengan Terdakwa adalah ibu tiri dari korban/pelapor (Egner Konstantin);

Bahwa berdasarkan uraian kami di atas, pada intinya Jaksa Penuntut Umum telah salah dalam menerapkan bentuk dakwaan Alternatif campuran (alternatif dan subsidair). Menurut hemat kami, seharusnya Jaksa Penuntut Umum menerapkan Dakwaan Alternatif saja, bukan campuran. Yakni dengan Dakwaan alternatif : KESATU Pasal 367 ayat (2) jo. Pasal 362 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP   ATAU  Dakwaan KEDUA Pasal 376 jo. Pasal 372 KUHP jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

 

Bahwa dalil-dalil hukum kami di atas senada dengan pendapat Ahli Dr. Rudi Satriyo, S.H., M.H. ketika hadir sebagai ahli pada persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terkait perkara pencurian dalam keluarga No. 994/Pen.Pid/2008/PN.JKT.Sel atas nama Terdakwa Haryanti Susanto (sebagaimana dilansir dalam www.kabarindonesia.com, 29-Aug-2008), yang menyebutkan :”Pasal yang didakwakan terhadap terdakwa yakni pasal 367 KUHP tidak tepat karena pasal tersebut tidak ada sanksi pidananya. Seharusnya pasal yang dikenakan adalah pasal 362, 363 dan 364 KUHP jo. 367 KUHP.  Lebih lanjut Rudi Satriyo mengatakan di dalam hukum pidana ada suatu prinsip jika satu unsur pada pasal tersebut tidak terpenuhi maka pasal tersebut tidak dapat dijatuhkan kepada terdakwa.”

Bahwa akibat Jaksa Penuntut Umum telah salah dalam menerapkan Pasal dan bentuk dakwaan, rumusan unsur-unsur yang akan dibuktikan terhadap Terdakwa menjadi tidak dapat diuraikan, kalaupun diuraikan tidak akan memenuhi suatu perbuatan pidana. Akibatnya tidak memenuhi unsur-unsur untuk seseorang dapat dipidana, sebagaimana dikenal ajaran ’feit materiel’  dalam hukum pidana bahwa seseorang dapat dipidana apabila rumusan pasal-pasal yang didakwakan kepada Terdakwa telah terpenuhi untuk selanjutnya dapat dilakukan pemidanaan terhadapnya.

Bahwa berdasarkan uraian kami di atas yang membuktikan bahwa adanya kecacatan Jaksa Penuntut Umum dalam menyusun dakwaan, sudah sepantasnyalah dalil tersebut mendapat tanggapan positif oleh Majelis hakim dalam persidangan ini agar memperoleh keyakinan untuk menyatakan bahwa Terdakwa tidak bersalah dan harus dibebaskan, atau setidak-tidaknya lepas dari segala tuntutan hukum.

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang terhormat

Bahwa selain dalil-dalil di atas, untuk menanggapi Tuntutan Jaksa Penuntut Umum maka Kami Penasehat Hukum Terdakwa juga akan menguraikan dan menganalisa Fakta-fakta persidangan yang secara khusus berkaitan dengan apa yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum dan apa yang diuraikan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam Surat Tuntutannya.

Bahwa, dalam membuktikan suatu Surat Dakwaan dan kemudian diuraikan dalam Surat Tuntutan (Requisitoir), Jaksa Penuntut Umum harus secara obyektif mempertimbangkan seluruh Fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, meskipun sebagai Jaksa Penuntut Umum bertugas membuktikan dakwaan tetapi tetap harus secara obyektif terhadap fakta-fakta persidangan yang terungkap dalam persidangan. Bahwa, Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan bertugas untuk membuktikan dakwaannya, ini berkaitan dengan tugas Jaksa Penuntut Umum dalam persidangan yakni  :

  1. Untuk mengungkapkan apakah peristiwa/perbuatan yang diuraikan dalam Surat Dakwaan benar telah terjadi atau tidak, Jaksa Penuntut Umum diberi hak untuk mengajukan alat-alat bukti  dalam persidangan baik dari Saksi-saksi, alat bukti tulisan, keterangan Ahli, petunjuk maupun keterangan Terdakwa;

 

  1. Jaksa Penuntut Umum membuktikan apakah perbuatan Terdakwa tersebut memenuhi unsur-unsur dari Pasal Yang didakwakan. Selanjutnya berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum harus membuktikan apakah perbuatan Terdakwa seperti yang terurai dalam Surat Dakwaan telah memenuhi unsur-unsur atas pasal-pasal Tindak Pidana yang didakwakan.

 

Bahwa, untuk menanggapi Tuntutan Jaksa Penuntut Umum dalam perkara ini maka kami sebagai Penasehat Hukum Terdakwa harus menguji apakah Jaksa Penuntut Umum telah obyektif terhadap Fakta-fakta persidangan atau tidak, apakah analisa unsur-unsur Tindak Pidana yang didakwakan telah dibuktikan sesuai fakta persidangan atau tidak.

Bahwa, Jaksa Penuntut Umum dalam Dakwaan maupun Tuntutannya, jelas-jelas tidak dapat membuktikan secara obyektif dan terstruktur melalui alat bukti di persidangan, apakah benar bahwa Terdakwa-lah yang melakukan pengambilan sejumlah uang secara satu-persatu sesuai dengan print out yang ada di dalam buku tabungan Rekening milik saksi Egner Konstantin. Intinya Jaksa Penuntut Umum tidak dapat memastikan kebenaran materil, apakah Terdakwa terbukti melakukan Penggelapan secara berlanjut sebagaimana yang didakwakan.

Bahwa Jaksa Penuntut Umum dalam membuat tuntutan tidak mendasarkan kepada fakta-fakta persidangan. Terlihat bahwa Jaksa Penuntut Umum hanya mempertahankan dalil-dalilnya dari Keterangan Berita Acara Penyidikan semata-mata, padahal jelas dalam persidangan  banyak sekali fakta-fakta yang terungkap yang jauh berbeda dengan BAP dari Penyidik. Seharusnya Jaksa Penuntut Umum bukan berperan sebagai penyaji atas hasil-hasil penyidikan semata-mata, namun benar-benar harus membuktikan Dakwaannya melalui alat-alat bukti yang sah, karena dalam perkara pidana, yang menjadi pedoman untuk menganalisa dan mempertimbangkan serta memutuskan suatu perkara adalah berdasarkan fakta-fakta di persidangan.

IV. 2. Tanggapan Atas Uraian Fakta-Fakta Dalam Surat Tuntutan

 

IV.2.1. Fakta-Fakta Persidangan yang dibuat Oleh Jaksa Penuntut Umum Dalam Requisitor Tidak Sesuai Dengan Yang Sebenarnya di Dalam Persidangan

 

Setelah membaca keterangan Saksi-saksi dan Terdakwa dalam Surat Tuntutan yang dibuat oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) tertanggal 5 Januari 2009, ternyata banyak ditemukan penggelapan fakta yang dilakukan oleh JPU, yang mana JPU telah membuat rangkaian fakta tidak sesuai dengan sebenarnya yang diterangkan oleh Para Saksi dan Terdakwa di persidangan. Ada Fakta yang tidak pernah terucap oleh Para Saksi dan Terdakwa di persidangan justru ditambah-tambahkan,  dan ada pula fakta-fakta yang terucap, akan tetapi justru dikurangi oleh JPU di dalam requisitornya. Terlihatlah bahwa JPU memakai frame-nya sendiri dalam menguraikan fakta-fakta dan sebagian besar hanya menulis kembali hal-hal yang telah ada di dalam Berita Acara Pemeriksaan di Kepolisian. Terhadap perbuatan Jaksa Penuntut Umum ini, maka seluruh fakta-fakta yang dikemukakan JPU dalam requisitor sepanjang yang tidak bertentangan dengan uraian fakta-fakta serta diakui kebenarannya oleh Penasihat Hukum dalam Pleidooi ini -haruslah ditolak!-.

Walaupun banyak pertentangan fakta yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum dengan Penasihat Hukum Terdakwa, namun berikut ini kami hanya akan menguraikan beberapa hal yang kami anggap penting untuk diungkapkan dan kami bantah, antara lain :

  1. Pada halaman 3 alinea pertama Surat Tuntutan JPU tertulis: ”Bahwa benar saksi memiliki usaha penjualan air minum isi ulang Vitaqua di Jl. H. Jian No. 17/19 Rt. 003/07 Kel. Cipete Utara Kec. Kebayoran Baru Jakarta Selatan yang merupakan usaha pribadi saksi (berdasarkan Surat Keterangan Nomor 123/1.842.0/03 dari Wakil Lurah Cipete Utara tanggal 02 September 2003) yang mana modal usahanya dari hadiah dari para kerabat saksi bukan dari pemberian orang tua saksi.”

 

Bahwa apa yang tertulis oleh JPU tersebut tidak sesuai dengan apa yang tersirat dalam keterangan Saksi Egner di depan persidangan tanggal 10 Desember 2008, yang mana kita semua sama-sama mendengar dari ucapan Saksi Egner Konstantin mengatakan bahwa : MODAL PENDIRIAN USAHA VITAQUA ADALAH BERASAL DARI AYAHNYA.

Selanjutnya tentang pendapat JPU bahwa ”Saksi Egner sebagai pemilik usaha Vitaqua berdasarkan surat keterangan lurah”, jelas itu hanya asumsi JPU yang mengada-ada. Kelihatan sekali bahwa Jaksa Penuntut Umum kurang memahami hukum perdata khususnya hukum perusahaan dan badan hukum.  Bahwa yang dinamakan suatu badan hukum pengesahannya harus melalui instansi dan pejabat yang berwenang, apalagi yang diatur secara khusus melalui undang-undang misalnya Perseroan Terbatas dan Yayasan yang harus memiliki syarat ada akta notaris yang kemudian disahkan oleh Menteri Hukum dan HAM. Begitu pula terhadap badan-badan hukum lain seperti CV, firma, perkumpulan orang/persekutuan perdata, Usaha Dagang, dan lain-lain, kitab undang-undang hukum dagang mensyaratkan harus adanya pembuatan akta otentik minimal yang disahkan oleh Notaris sebagai Pejabat yang mengeluarkan akta tersebut atau instansi/pejabat berwenang lainnya.

Bahwa sepanjang peraturan yang ada hingga kini, belum pernah ada suatu usaha yang disahkan oleh lurah. Bahwa Egner Konstantin mengada-ada dan salah tempat bila benar dia sebagai pemilik usaha -quod none- akan tetapi meminta izin usaha tersebut kepada pihak kelurahan adalah benar-benar suatu yang lucu. Berdasarkan ini, kami mensommer Jaksa Penuntut Umum, serta -mohon akta- agar JPU dapat menghadirkan alat bukti surat yang menyatakan bahwa benar ada pengesahan badan usaha yang bernama Vitaqua dan benar bahwa pemilik/pimpinannya adalah Egner Kontantin.  

  1. Bahwa seluruh keterangan saksi Egner yang ditulis oleh JPU dalam Requisitornya terkait pernyataan Egner Konstantin pernah memberitahukan kepada Umi Kulsum nomor pin ATM BCA miliknya yang bernomor : 111111, adalah tidak sesuai dengan keterangan yang diberikan Saksi Egner Konstantin di muka persidangan. Bahwa sebagaimana dengan sejelas-jelasnya Egner mengatakan dalam persidangan bahwa Ia tidak pernah memberitahukan nomor pin ATM BCA tersebut kepada Umi Kulsum, bahwa Egner hanya memberitahukan nomor pin ATM kepada Terdakwa, karena Egner percaya sepenuhnya kepada Terdakwa. Hal ini juga didukung dari keterangan Saksi Umi Kulsum yang juga mengatakan demikian.

 

  1. Bahwa pada halaman 3 alinea 7 dan halaman 4 alinea 5 surat tuntutan, JPU memuat fakta keterangan Egner Kontantin yang menyatakan bahwa ”Saksi Egner Konstantin tidak pernah memberikan izin kepada terdakwa untuk menggunakan ATM”. Terhadap tulisan JPU ini, seharusnya diiringi pula pernyataan Saksi Egner Kontantin yang secara tegas menyatakan bahwa : SAKSI EGNER KONSTANTIN TIDAK PERNAH MELARANG TERDAKWA UNTUK MENGGUNAKAN ATM TERSEBUT. Terlihatlah bahwa JPU mengurangi fakta yang sebenarnya terungkap di dalam persidangan.

 

  1. Pada halaman 3 alinea 7 JPU telah menuliskan kebohongan besar dengan menyatakan bahwa ada perintah lisan dari Egner Konstantin kepada Saksi Umi Kulsum dan kepada Terdakwa bahwa tidak boleh melakukan pengambilan uang melalui ATM”. Jelas-jelas Saksi Egner Konstantin berkata di dalam persidangan bahwa Ia  tidak pernah melarang Terdakwa untuk menggunakan ATM tersebut.

 

  1. Bahwa apa yang dituliskan oleh JPU pada keterangan Saksi Umi Kulsum juga tidak benar. Tidak pernah Saksi Umi Kulsum menyatakan di dalam persidangan bahwa Ia selama memegang ATM diberitahukan nomor pin 111111 dari Egner Konstantin. Bahwa pernyataan yang dilontarkan oleh Umi Kulsum justru sebaliknya. Keterangan bahwa Umi Kulsum tidak mengetahui nomor pin ATM Egner, didukung pula oleh keterangan Saksi Egner.

 

  1. Selanjutanya seluruh tulisan JPU dalam requisitor yang menyatakan bahwa Saksi Harnadi, Christin, Iyan Herdianto, dan Agustinus Tantohari mengetahui Umi Kulsum menyerahkan Buku tabungan dan ATM berikut pinnya 111111, adalah tidak benar dan tidak sesuai fakta. Fakta yang sebenarnya di dalam persidangan jelas seluruh saksi menyatakan tidak tahu berapa nomor pin ATM yang dimiliki Egner. Berdasarkan fakta dari Eger Konstantin sendiri bahwa Ia hanya memberitahu nomor pin ATM tersebut kepada Terdakwa.

 

Bahwa, Berdasarkan uraian tersebut di atas jelas apa yang telah diuraikan dalam Surat Dakwaan berkaitan dengan Perbuatan Terdakwa Selviane, tidak terbukti atau tidak sesuai dengan Fakta-Fakta persidangan, Jaksa Penuntut Umum jelas-jelas dan nyata-nyata tidak obyektif dan melakukan distorsi dalam memaparkan dan mengurai fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan berkaitan dengan Perbuatan Terdakwa,  sehingga Uraian Perbuatan yang diuraikan Dalam Surat Dakwaan maupun Tuntutan tidak terbukti, maka dengan sendirinya dan sesuai hukum atas unsur-unsur Tindak Pidana yang didakwakan menjadi tidak terbukti.

BAB V.  ANALISA YURIDIS

 

V.1. Egner Konstantin tidak memiliki Persona Standing Sebagai Pengadu/Pelapor/Saksi Korban

 

Bahwa Pasal yang didakwakan sebagaimana dalam Requisitor Jaksa Penuntut Umum adalah Pasal 376 KUHP yang merupakan delik aduan. Delik Aduan merupakan hak eksklusif seseorang/pengadu yang berkepentingan, untuk memberitahukan  kepada pejabat yang berwenang agar menindak menurut hukum, terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana aduan yang merugikan si pengadu tersebut. Terhadap delik aduan ini, oleh karena sifatnya terikat kepada jenis-jenis delik aduan, orang yang menyampaikan pemberitahuan harus orang ”tertentu” seperti yang dirumuskan pada pasal pidana yang bersangkutan, dalam kasus ini adalah Pasal 376 KUHP.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dalam perkara ini haruslah tepat orang yang memiliki hak sebagai pengadu a quo. In casu berdasarkan seluruh keterangan saksi dan fakta-fakta yang ada, bahwa Rekening Bank Central Asia No. 6770076542 atas nama Egner Konstantin  peruntukannya hanyalah sebagai tempat penyimpanan hasil penjualan Vitaqua, tidak ada bercampur dengan kegunaan-kegunaan lain. Sedangkan melalui persidangan, tidak terbukti bahwa Egner Konstantin sebagai pemilik Vitaqua. Yang ditemukan dari persidangan adalah bahwa modal vitaqua berasal dari Agustinus Tantohari. Berdasarkan fakta tersebut, pihak yang dirugikan dalam kasus ini adalah bukan Egner Konstantin. Maka Egner Kostantin tidak layak sebagai Pengadu/Pelapor/Saksi Korban dalam perkara ini.

Bahwa atas ketiadaannya hak bagi Egner Konstantin sebagai Pengadu/Pelapor/Saksi Korban dalam kasus ini, maka pasal-pasal yang didakwaan terhadap Terdakwa tidak memiliki sifat ”memaksa” bagi Terdakwa untuk dapat dituntut dan dipidana.

 

 

 

 

V.2. Perbuatan Egner Konstantin Menyerahkan Kartu ATM Beserta Nomor PIN yang Sangat Rahasia dan Pribadi kepada Terdakwa, Secara Conditio Sine Qua Non Merupakan Izin Bagi Terdakwa Untuk Mengambil Uang Melalui Kartu ATM a quo.

 

Bahwa menurut Von Buri : Musabab adalah setiap syarat yang tidak dapat dihilangkan untuk timbulnya akibat.” (Prof. Moelyatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta, 2008, hlm. 99)

Bahwa terbukti beberapa hari setelah serah terima pengelolaan dan pembukuan Vitaqua dari Umi Kulsum kepada Terdakwa, Egner Konstantin memberitahukan nomor pin ATM miliknya kepada Terdakwa. Bila ditelusuri berdasarkan teori conditio sine qua non di atas, haruslah ada alasan kenapa Egner Konstantin memberitahukan nomor pin ATM tersebut yang bersifat rahasia dan pribadi.

Bahwa sebagaimana diketahui umum, ada berbagai macam kegunaan kartu ATM. Kegunaan yang paling praktis adalah melalui mesin-mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri) yang tersedia diseluruh tempat di perkotaan sampai daerah terpencil sekalipun, bagi pemegang kartu ATM dapat langsung melakukan penarikan uang tunai yang ada di dalam mesin ATM tersebut. Selain itu, dapat pula melakukan pentransferan uang ke rekening lain, pembayaran listrik, telepon, pembelian isi ulang voucher telepon seluler, dan lain-lain. Tapi hanya ada satu syarat agar dapat mempergunakan kartu ATM, yakni haruslah mengetahui berapa nomor rahasia (nomor pin) kartu ATM tersebut. Intinya, bagi pemegang kartu ATM dan mengetahui nomor pin-nya, maka langsung dapat menarik sejumlah uang/melakukan pendebetan yang ada di dalam rekening kartu ATM tersebut. 

Dilihat dari tujuannya bahwa nomor pin adalah kode rahasia untuk membuka kartu ATM agar dapat dilakukan proses pengambilan uang, oleh karena itu secara sederhana alasan hukum (legal reasoning) dari pertanyaan kenapa Egner memberikan nomor pin ATM-nya kepada Terdakwa tidak lain dan tidak bukan adalah ”agar Terdakwa dapat mengambil uang/melakukan pendebetan di dalam kartu ATM tersebut”.

Bahwa terhadap kesaksian Egner di muka persidangan yang mengatakan tidak pernah membolehkan Terdakwa untuk mengambil uang melalui kartu ATM tersebut, kontradiktif dengan perbuatan Egner yang memberikan nomor pin itu sendiri.

Bahwa Egner Konstantin sendiri pernah mengatakan di dalam persidangan, ia memberikan kepercayaan kepada Terdakwa untuk mengelola usaha Vitaqua yang mana juga diberi kepercayaan untuk memegang buku tabungan, ATM beserta nomor pin. Selain itu Egner tidak pernah berkata sekalipun untuk melarang Terdakwa mengambil uang melalui kartu ATM a quo.       

Dalam perkara ini,  larangan dari Egner barulah timbul belakangan setelah konflik bergulir. Terbukti baru pada tanggal 3 Juli 2008 Egner Konstantin menyuruh supir ayahnya yang bernama Iyan untuk mengambil ATM tersebut. Bahwa sampai adanya pelaporan di kepolisian-pun Egner tidak pernah melakukan somasi terlebih dahulu kepada Terdakwa, tampak nyata ada skenario sengaja ingin memenjarakan Terdakwa atas pelampiasan dendam seseorang dan untuk merebut anaknya. Bahwa Terdakwa baru mengetahui timbulnya larangan dan complain terhadap pengambilan uang sebesar 10 Juta yang pernah dilakukan Terdakwa, tiba-tiba saja ketika melakukan Berita Acara Pemeriksaan di Kepolisian. Padahal apalah sulitnya jika ada permasalahan uang hanya sebesar Rp. 10.000.000,- untuk diselesaikan secara baik-baik terlebih dahulu? Bahwa pengambilan kartu ATM beserta buku tabungan dari Terdakwa disebabkan adanya konflik rumah tangga antara Terdakwa dengan Agustinus Tantohari, agar dapat dicari-cari kesalahan pada Terdakwa. Dibuktikan selanjutnya dengan adanya pengajuan gugatan cerai dan perebutan hak asuh anak oleh Agustinus Tantohari bersamaan dengan laporan kepolisian oleh Egner pada tanggal 9 Juli 2008. Semakin nyatalah kasus ini bergulir atas skenario besar yang dilakukan oleh Agustinus Tantohari.

Bahwa adanya larangan terhadap Terdakwa untuk melakukan pengambilan uang melalui ATM a quo, baru timbul setelah konflik rumah tangga terjadi ditandai dengan pelaporan kepolisian tanggal 9 Juli 2008. Terhadap fakta ini, sangatlah bertentangan dengan asas non retroaktif/legalitas. Padahal sejak diserahkannya buku tabungan beserta ATM a quo tidak pernah Egner Konstantin melarang Terdakwa melakukan pengambilan uang melalui ATM a quo. Terdakwa bukanlah kriminal. Jika saja sedari dulu hasil penjualan Vitaqua tidak disimpan dalam rekening Egner, taruhlah disimpan pada rekening Terdakwa, kasus ini tidak akan pernah bergulir, dan Egner tidak akan bisa semena-mena menuduh Terdakwa melakukan penggelapan. Dan jika saja sedari dulu Egner Konstantin ada melarang Terdakwa untuk jangan pernah melakukan pengambilan uang melalui ATMnya, terdakwa juga tidak akan mau melakukan perbuatan itu karena akan menimbulkan masalah dan merupakan suatu kejahatan. Bahwa sejak rekening a quo digunakan untuk menyimpan hasil penjualan Vitaqua, Terdakwa telah mengerti apa yang menjadi hak dan kewajibannya. Terdakwa selama ini cukup paham mana tindakan yang benar dan mana yang tidak benar. Atas didasari kebenaran dan kebaikan-lah, Terdakwa tanpa berpikiran jahat mengambil uang dalam ATM a quo karena diperintah Ayahnya Egner dan demi memajukan usaha Indobeef yang saat itu perlu adanya pembelian Cool Storage. 

Bahwa konsekwensi hukum dengan tidak adanya larangan dari Egner terhadap Terdakwa untuk melakukan pengambilan uang via ATM sejak awal Terdakwa memegang buku tabungan beserta ATM, maka penerapan larangan tersebut tidak bisa diberlakukan terhadap tindakan-tindakan yang telah Terdakwa lakukan sebelum larangan itu timbul. Sedangkan terbukti bahwa larangan baru timbul sejak kasus ini bergulir. Hal ini sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam asas Legalitas / asas non retroaktif.

Bahwa oleh karena terdapat izin bagi Terdakwa untuk melakukan pengambilan uang melalui ATM a quo, maka unsur-unsur melawan hukum terhadap perbuatan Terdakwa menjadi tidak terbukti dan terdakwa harus dinyatakan bebas atau setidak-tidaknya lepas dari segala tuntutan hukum.

Sebagaimana menurut Prof. Dr. D. Schaffmeister:

”Ada perbuatan-perbuatan yang sifat melawan hukumnya tidak dapat ditentukan lebih dulu. Apabila seorang Mahasiswa mengambil buku yang mahal dari kamar kawan mahasiswanya, tidaklah berarti bahwa dia berbuat melawan hukum, ini bergantung pada keadaan. Kalau dia mendapat izin dari pemilik buku tersebut, perbuatannya tidak bersifat melawan hukum. Karena dalam hal ini sifat melawan hukum tidak berbicara sendiri, maka harus dibuktikan. (Schaffmeister, Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung:2007, hlm. 39).

 

Selanjutnya Schaffmeister mengatakan  bahwa dalam peradilan dan ilmu pengetahuan juga terdapat alasan penghapus pidana umum di luar undang-undang, yaitu : a. Izin; b. Tidak ada kesalahan sama sekali (tanpa sifat tercela, diakronimkan menjadi tanpa sila); c. Tidak ada sifat melawan hukum materil.

 

V.3. Causa Tidak Terbuktinya  Egner Konstantin Sebagai Pemilik Usaha VITAQUA

 

Telah dikemukakan berdasarkan fakta-fakta di atas bahwa Vitaqua hanyalah toko/warung, yakni toko yang menjual air minum. Vitaqua bertempat usaha di Jl. H. Jian No. 17-19 Rt. 003/007, Cipete Utara, Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, yang mana hak kepemilikan tempat usaha tersebut adalah oleh Ayah Egner. Bahwa pada awal pendirian, Vitaqua dimodali oleh Ayah Egner. Maka pada awalnya asset-asset, peralatan maupun air minum yang ada pada Vitaqua  adalah milik Ayah Egner yang bernama Agustinus Tantohari. Bahwa cara usahanya, pada Vitaqua ditempatkanlah cukup satu atau dua orang penjual saja. Tugasnya adalah : menjaga toko untuk melayani pembeli; membeli keperluan-keperluan toko; serta menghantarkan air bila ada pembeli yang memesan. Sedangkan untuk melakukan pembukuan pada awalnya diserahkan kepada Umi Kulsum yang saat itu bekerja sebagai sekretaris Agustinus Tantohari di usaha perkapalan.

Bahwa sejak awal pendirian, vitaqua tidak perlu berbentuk badan hukum formil melalui pengesahan suatu instansi ataupun pejabat berwenang, karena memang usaha di bidang penjualan air minum isi ulang ini pengelolaannya sangat sederhana, maka cukup dijalankan oleh kalangan keluarga saja dengan memperkerjakan sedikit orang untuk menjaga toko dan melakukan pekerjaan teknis seperti menghantarkan air minum ke rumah pembeli.

Beralih pada tanggal 21 September 2005, pengelolaan dan pembukuan dipercayakan sepenuhnya kepada Terdakwa. Terbukti Egner Konstantin dan Agustinus Tantohari tidak pernah melakukan pengecekan terhadap pengelolaan maupun laporan kuangan Vitaqua. Segala keuntungan dan pengelolaan Vitaqua diserahkan kepada Terdakwa sepenuhnya.

Analisis yuridis kami dari fakta yuridis di atas, maka :

Pertama, oleh karena Terdakwa dipercayakan Agustinus Tantohari dan Egner Konstantin untuk mengelola Vitaqua, serta Terdakwa adalah sebagai Ibu Rumah Tangga yang diperbolehkan mengatur urusan rumah tangga, maka Terdakwa berhak untuk mengalokasikan dana keuntungan hasil penjualan air minum Vitaqua apakah untuk dipergunakan demi kepentingan Vitaqua maupun demi kepentingan keluarga, bahkan demi kepentingannya pribadi walaupun Terdakwa tidak pernah menggunakannya untuk kepentingan pribadi.

Kedua, oleh karena Vitaqua tidak memiliki badan usaha formil dan struktur kepengurusan yang jelas, maka tidak berlaku teori adanya perusahaan/jenis badan usaha/organisasi usaha sebagai subjek hukum. Yang berlaku adalah adanya Penjual, adanya barang yang diperjualbelikan, dan adanya pembeli, sebagaimana hal ini lazim dianut dalam sistem usaha WARUNG/TOKO/KEDAI/DEPOT/PEDAGANG. Dalam kasus ini, barang yang diperjualbelikan adalah air minum, yang mana barang tersebut adalah barang konsumtif dan selalu habis terjual. Permasalahannya adalah mengapa Egner Konstantin merasa dirinya adalah sebagai pemilik usaha Vitaqua? Sedangkan usaha Vitaqua sebagai subjek hukum sebenarnya tidak ada, yang ada hanya Penjual, dan objek yang dijual dalam hal ini adalah air minum. Maka -in casu- dalam hal usaha seperti ini sebenarnya yang berlaku adalah teori hukum benda, yakni siapakah pemilik benda maka dialah yang berhak. Sesuai dengan Pasal 500 KUHPerdata (BW) yang menyebutkan :

”Segala apa yang karena hukum perlekatan termasuk dalam suatu kebendaan, seperti pun segala hasil dari kebendaan itu, baik hasil karena alam, maupun hasil karena pekerjaan orang, selama yang akhir-akhir ini melekat pada kebendaan itu laksana dahan dan akar terpaut pada tanahnya, kesemuanya itu adalah bagian dari kebendaan tadi.”

Selanjutnya timbul pertanyaan siapakah pemilik air minum yang secara konsumtif habis terjual selama Terdakwa mengelola Depot Vitaqua (periode 21 September s/d 2008) ? Untuk menjawab pertanyaan ini yang pasti pemiliknya adalah Agustinus Tantohari dan Terdakwa karena pembelian air secara konsumtif merupakan hasil dari perputaran uang keuntungan penjualan yang bersumber dari uang Agustinus Tantohari yang telah menikah dengan Terdakwa bercampur dalam harta gono-gini.

Ketiga, Terdakwa juga memiliki hak atas uang yang ada di dalam rekening a quo. Melekatnya hak terdakwa atas uang yang terdapat di dalam Vitaqua dilandasi karena Vitaqua bersumber dari modal yang berikan oleh Agustinus Tantohari. Sedangkan Terdakwa sejak menikah dengan Agustinus Tantohari telah bercampur harta yang merupakan harta gono-gini. Oleh karena itu, uang dari hasil penjualan air minum Vitaqua adalah milik Agustinus Tantohari dimana melekat juga bagian Terdakwa.

Keempat, oleh karena ketika serah terima Vitaqua kepada Terdakwa tidak ada pembicaraan serta tidak ada perjanjian tertulis tentang pembagian hasil penjualan air minum tersebut. Artinya, Terdakwa dibiarkan untuk mengelola sendiri dan dipersilahkan untuk menentukan pengalokasian hasil keuntungan Vitaqua. Oleh karenanya Terdakwa berhak melakukan pengambilan uang uang melalui ATM a quo karena Terdakwa sebagai pengelola Vitaqua sekaligus sebagai Ibu Rumah Tangga melakukan tindakan yang baik dan dibenarkan pada saat itu untuk meminjamkan Agustinus Tantohari membeli Cool Storage demi kemajuan usaha keluarga.

V.4. Tidak Ada Sifat Melawan Hukum (Wederrechtelijkheid)

 

Salah satu unsur esensial tindak pidana/delik adalah sifat melawan hukum yang dinyatakan dengan atau tidak di dalam suatu pasal undang-undang pidana, karena alangkah janggal dan tidak adil bila seseorang dipidana karena melakukan perbuatan yang tidak melawan hukum.

Bahwa menurut paham Wederrechtelijkheid dalam arti formal, sesuatu perbuatan itu hanya dapat dipandang sebagai bersifat ”melawan hukum”, yaitu apabila perbuatan tersebut memenuhi semua unsur yang terdapat di dalam rumusan dari suatu delik menurut undang-undang. Sedangkan menurut paham Wederrechtelijkheid dalam arti meteriil, apakah sesuatu perbuatan itu dapat dipandang bersifat melawan hukum atau tidak, masalahnya bukan saja harus ditinjau sesuai dengan ketentuan-ketentuan dari hukum yang tertulis, melainkan juga harus ditinjau menurut asas-asas hukum umum dari hukum yang tidak tertulis.(Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Citra Aditya Bakti Bandung:1997, hlm.356 )

 

Dalam perkara ini, Terdakwa telah diberikan kepercayaan sepenuhnya oleh Agustinus Tantohari dan Egner Konstantin agar mengelola Vitaqua. Berkenaan dengan itu di dalam pikiran Terdakwa, ternyata Terdakwa tidak hanya dibutuhkan dalam hal mengurus keperluan-keperluan rumah tangga saja. Dalam hal demi tercapainya kehidupan keluarga yang berkesinambungan secara finansial-pun, Terdakwa juga dibutuhkan.

Tibalah pada sekitar bulan februari 2008 dimana keluarga sedang gencar-gencarnya untuk dapat meningkatkan kualitas perusahaan. Dimana yang paling berpeluang besar untuk maju adalah usaha Indobeef, Agustinus Tantohari dengan menggebu-gebu berkeinginan untuk membeli Cool Storage walaupun pada saat itu uang yang dipegangnya tidak mencukupi. Untuk melaksanakan niatnya Agustinus Tantohari memerintahkan agar Terdakwa dapat mengumpulkan uang sebesar Rp. 30.000.000,-. Terdakwa pun siap menyanggupi, dan langsung menyediakan uang sebesar jumlah tersebut yang diambil dari Rekening Terdakwa, tabungan Revel, dan hasil penjualan Vitaqua yang ada pada rekening Egner. Pada saat itu Terdakwa tidak ada niat jahat mengambil uang tersebut untuk kepentingan pribadi; tidak ada sedikitpun keuntungan yang diperoleh Terdakwa; dan Terdakwa memperoleh izin atas adanya perintah dari yang berhak, namun sangat disayangkan Terdakwa tidak mengetahui ternyata perbuatannya dapat menjadi bumerang sewaktu-waktu bila ada niat jahat dari Agustinus Tantohari dan Egner untuk menjerumuskan terdakwa.

Bahwa berdasarkan kondisi di atas, terhadap perbuatan Terdakwa mengambil uang dalam ATM a quo dengan tanpa didasari unsur niat jahat, tanpa keuntungan sedikitpun baginya, dan dengan memperoleh izin atas perintah orang lain yang berhak, maka berdasarkan hukum apabila perbuatan Terdakwa dinyatakan sah dan tidak melawan  hukum .  

Pertimbangan hukum di atas sepaham dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia di dalam putusan kasasinya tanggal 8 Januari 1966 Nomor 42 K/Kr/1965 telah menyatakan bahwa ”sesuatu tindak pidana itu dapat kehilangan sifatnya sebagai perbuatan yang ”melawan hukum” bukan saja karena adanya sesuatu ketentuan undang-undang, melainkan juga karena adanya asas-asas hukum yang tidak tertulis dan bersifat umum”. Dalam putusan kasasinya itu Mahkamah Agung telah menyebutkan beberapa contoh dari asas-asas umum yang tidak tertulis dan bersifat umum, yakni antara lain :a. Faktor tidak dirugikannya negara; b. Kepentingan umum tetap dapat dilayani, c. Terdakwa sendiri tidak memperoleh keuntungan.

 

Bahwa menurut Van Bemmelen dalam bukunya Ons Strafrecht I, hlm. 176, menyatakan : di dalam hukum pidana itu terdapat lebih dari delapan macam dasar-dasar yang meniadakan hukuman dan yang terpenting diantaranya adalah antara lain : ”tindakan-tindakan yang telah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari pihak-pihak yang dirugikan di dalam peristiwa-peristia tertentu.”

 

Selain dalil-dalil kami di atas, bilamana Hakim ragu-ragu dalam mengeluarkan keputusan, sebagaima pula Unsur melawan hukum dalam Pasal 376 KUHP oleh pembentuk undang-undang telah dinyatakan secara tegas di dalam rumusan delik. Maka apabila terdapat keragu-raguan mengenai apakah sesuatu perbuatan itu bersifat melawan hukum atau tidak, para ahli sependapat untuk mengatakan bahwa unsur melawan hukum itu harus dianggap sebagai tidak terbukti, dengan akibat bahwa hakim harus membebaskan Terdakwa dari penghukuman. Hal ini sejalan dengan asas in dubio pro reo yang berarti bahwa pada umumnya apabila terdapat keragu-raguan tentang hal seorang Terdakwa dapat atau tidak dapat dihukum, maka haruslah diputuskan secara menguntungkan Terdakwa.

 

V.5. Tidak Ada ’Kehendak Jahat’ (Mens Rea)

 

Dalam doktrin hukum pidana di kenal istilah ”actus non est reus, nisi mens sit rea” atau dalam bahasa inggrisnya yang diterjemahkan menurut Wilson : ”an act is not criminal in the absence of a guilty mind” (Willian Wilson, Criminal Law: Doctrine and Theory, London: Logman, 2003, 67). Pemaknaannya adalah ”suatu perbuatan tidak dapat dikatakan bersifat kriminal jika tidak terdapat kehendak jahat didalamnya”. Pada satu sisi, doktrin mens rea merupakan suatu keharusan dalam tindak pidana, dan pada sisi lain juga menegaskan bahwa untuk dapat mempertanggungjawabkan seseorang karena melakukan tindak pidana, sangat ditentukan oleh adanya mens rea pada diri orang tersebut. Dengan demikian berarti bahwa kesalahan terletak pada kesengajaan dari si pembuat, baik disengaja dengan maksud, sengaja dengan sadar kepastian, maupun sengaja dengan sadar kemungkinan.

Dalam perkara ini, kehendak untuk melakukan pengambilan uang melalui ATM sejumlah Rp. 10.000.000,- adalah bukan dari niatnya, tetapi atas  suruhan Agustinus Tantohari. Selain itu sepanjang yang Terdakwa ketahui dan telah terbukti dalam persidangan ini, bahwa Agustinus Tantohari-lah pemilik usaha Vitaqua, maka perbuatan Terdakwa dapat dibenarkan. Nyatalah bahwa perbuatan Terdakwa tidak didasari kehendak jahat (Mens Rea) oleh karenanya perbuatan terdakwa dapat dimaafkan sehingga Terdakwa harus dibebaskan atau setidak-tidanya lepas dari segala tuntutan hukum

V. 6. Unsur-unsur Tindak Pidana Tidak Terpenuhi

 

Bahwa sebelumnya pada Bab IV di atas, kami telah memaparkan secara kritis bahwa dakwaan Jaksa Penuntut umum sebagaimana dalam surat dakwaan dan tuntutannya salah kaprah dalam menerapkan pasal dan format dakwaan. Akan tetapi agar lebih meyakinkan Majelis Hakim terkait tuduhan-tuduhan jaksa sebagaimana uraian materil tindak pidana yang didakwakan, maka kami akan mengungkapkan kebenaran materil melalui analisis yuridis, dengan menilai fakta-fakta persidangan dan dikaitkan dengan unsur-unsur pasal dari tindak pidana yang didakwakan sebagaimana tertuang dalam tuntutan pidana, sehingga nyatalah ketidakbenaran dakwaan yang menurut Jaksa Penuntut Umum telah terbukti secara menyakinkan berdasarkan fakta-fakta yang telah terungkap dalam persidangan dan didukung alat-alat bukti yang cukup. Berikut ini uraian kami :

 

 

V.6.1. Tanggapan Terhadap Dakwaan KEDUA Primair : melanggar Pasal 376 KUHP jo. Pasal 64 KUHP.

 

Selanjutnya apa yang didakwakan kepada Terdakwa Selviane sebagaimana didakwakan dalam dakwaan KEDUA Primair yang selengkapnya dalam rumusan Pasal 376 jo. Pasal 64 KUHP adalah sebagai berikut :

“Ketentuan Pasal 367 berlaku bagi kejahatan-kejahatan yang dirumuskan dalam bab ini.”

 

Jo.

 

(1)        Jika antara beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut (voortgezette handeling), maka hanya dikenakan satu aturan pidana; jika berbeda-beda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat.

(2)       Begitu juga hanya dikenakan satu aturan pidana, jika orang dinyatakan salah melakukan pemalsuan atau perusakan mata uang, dan menggunakan barang yang dipalsu atau yang dirusak itu.

(3)       Akan tetapi, jika orang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut dalam pasal 364, 373, 379 dan 407 ayat 1, sebagai perbuatan berlanjut dan nilai kerugian yang ditimbulkan jumlahnya lebih dari Rp. 25,- maka ia dikenakan aturan pidana tersebut dalam pasal 362, 372, 378 dan 406.”

Bahwa sebagaimana pernyataan kami sebelumnya, akibat dakwaan tidak dihubungkan dengan Pasal 372 KUHP, mengakibatkan rumusan di atas tidak dapat diuraikan unsur-unsurnya. Lihatlah rumusan di atas sama sekali tidak terlihat ada unsur barang siapa, perbuatan pidana, sifat melawan hukum, dan ancaman pidananya. Akan tetapi ada baiknya kami memberikan tanggapan terhadap dakwaan tersebut bila dihubungkan dengan Pasal 372 KUHP yang berbunyi :

”Barangsiapa dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri (zich toeeigenen) barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan, diancam, karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah.”

 

Maka selanjutnya penting pula kami tangkis seluruh unsur-unsur  ”buatan” jaksa sebagaimana yang dituntut terhadap Terdakwa, sebagaimana berikut :

 

Unsur ”barangsiapa”.

 

Bahwa, unsur barang siapa adalah benar menunjuk kepada orang sebagai Individu (pribadi). Benar Terdakwa Selviane adalah pribadi yang merupakan subyek hukum yang dapat melakukan perbuatan hukum, yang mempunyai hak dan tanggungjawab hukum. Dalam hal ini Terdakwa Selviane dalam melakukan perbuatan mempunyai pertanggungjawaban hukum.

Namun kita harus lihat apakah sebagai subyek hukum tersebut melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukan, sehingga harus diletakkan pertangungjawaban kepadanya. Barang siapa yang dimaksud di sini adalah orang yang benar-benar melakukan suatu perbuatan, bukan perbuatan yang dilakukan oleh orang lain.

Bahwa terminologi hukum ”barangsiapa” adalah terkait dengan ”kepelakuan” (dader) seseorang yang dianggap melakukan sesuatu tindak pidana sebagaimana yang dikatanakan Prof. Van Hattum : ”Pelaku itu adalah orang yang memenuhi suatu rumusan delik, atau orang yang memenuhi semua unsur dari rumusan suatu delik” (P.A.F. Lamintang, Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia, P.T. Citra Aditya Bhakti, Bandung, 1997, hal. 597)

Dalam kasus ini, Terdakwa melakukan perbuatan mengambil uang di ATM sebesar Rp. 10.000.000,- perintah orang lain yakni oleh Agustinus Tantohari, sehingga hilanglah pertanggungjawaban pada unsur barang siapa Terdakwa. Sehingga yang menjadi subjek pertanggungjawaban melekat pada Agustinus Tantohari.

Unsur ”dengan sengaja”.

 

Bahwa pemidanaan hendaknya dijatuhkan hanya pada barang siapa melakukan perbuatan yang dilarang, dengan dikehendaki dan diketahui (Memorie van Toelicting Swb dalam Moelyatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Rineka Cipta,Jakarta: 2008, hlm. 185).

Bahwa bilamana adanya larangan tetapi seseorang tetap melaksanakan kehendaknya, padahal dia mengetahui ada resiko terhadap kehendaknya tersebut, maka barulah terpenuhi seseorang itu benar-benar dengan sengaja melakukan perbuatannya tersebut. Sebagaimana menurut Pompe, ”Kesengajaan adalah kehendak yang diarahkan pada terwujudnya perbuatan seperti dirumuskan dalam wet. Bahwa kesengajaan baru mempunyai arti dalam kostruksi ajaran kesalahan, apabila si pembuat juga menginsafi atau paling tidaknya, seharusnya menginsafi sifat melawan hukumnya perbuatan.” Hal ini senada dengan Langemeyer bahwa ”Keinsafan atas melawan hukumnya perbuatan merupakan anggapan yang dapat dibuktikan ketidakbenarannya.” (Noyon Langemeyer I hlm. 16/17)

Dalam kasus ini, secara tegas berdasarkan fakta di persidangan yang dinyatakan Egner Konstantin, bahwa Ia tidak pernah melarang Terdakwa untuk melakukan penarikan uang melalui ATM a quo. Berdasarkan izin tersebut, maka tidaklah tampak adanya perbuatan Terdakwa yang telah melanggar suatu hak tertentu pada orang lain. Selain itu tidak ada kehendak Terdakwa untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, sebagaimana fakta bahwa perbuatan terdakwa adalah untuk kepentingan Agustinus Tantohari yang saat itu memerlukan uang untuk pembelian Cool Storage.

Bahwa apa yang dilakukan Terdakwa adalah sejauh yang Ia anggap benar. Bilamanapun perbuatan Terdakwa tidak dibenarkan akibat ketidaktahuannya -quod none- tidaklah dapat menjadi suatu unsur dengan sengaja melawan hukum, karena secara nyata perbuatannya tidak menimbulkan kerugian bagi siapapun. Terdakwa melakukan pengambilan uang tersebut adalah dari hasil keuntungan penjualan air minum Vitaqua, yang mana Vitaqua merupakan usaha bersama keluarga yang dimiliki oleh Agustinus Tantohari sebagai suaminya sendiri dan melekat harta bersama dari Terdakwa.

Bahwa pernah terjadi di tahun 1949 HR di Nederland sebuah perkara Terdakwa dilepaskan dari segala tuntutan akibat ketidaktahuannya terhadap perbuatan yang Ia lakukan, berikut uraian contoh kasus yang bisa dijadikan pertimbangan :

”Seseorang membeli sepeda motor yang baru didatangkan dari luar negeri dan langsung mengendarainya, padahal belum ada surat-surat secara lengkap menurut peraturan lalu-lintas yang ada. Dalam persidangan, pembelaan Terdakwa adalah bahwa sebelum mengendarai sepeda motor tersebut dia telah menanyakan kepada pihak kepolisian sambil menunjukkan beberapa surat-surat yang telah ada padanya. Ia menanyakan apakah surat-surat itu sudah cukup untuk dapat mengendarai sepeda motor tersebut. Hal mana pihak kepolisian menjawab sudah cukup.”

Terhadap kasus tersebut di atas, Terdakwa dilepas dari tuntutan hukum karena sama sekali tidak ada kesalahan. Dengan adanya Arrest ini, umumnya di Nederland telah diterima bahwa : salah paham mengenai sifat melawan hukumnya perbuatan yang dapat dimaafkan, merupakan alasan penghapus pidana.

Dari kasus tersebut Moelyatno berpendapat: ”Kalau Terdakwa tidak mengetahui akan melawan hukumnya perbuatan, sekalipun dia telah melakukan segala sesuatu yang sepatutnya harus dilakukan dalam hal itu. Jika demikian, kiranya sukar untuk meneruskan celaan kepadanya.”

Mengenai istilah ”diketahui” menurut van hattum, hal itu harus dimaknakan sebagai tujuan subjektif daripada Terdakwa. Terdakwa harus sungguh-sungguh mengingini keadaan tersebut.

Tidak adanya kesengajaan terhadap sifat melawan hukumnya perbuatan , merupakan keadaan yang menghapus pidana (strafuitsluitende omstandigheid).

Bahwa ”willens en wetwns” atau ”menghendaki dan mengetahui” telah dipergunakan dalam Memorie van Toelichting (M.v.T), di mana para penyusunnya telah mengartikan ”opzettelijk plegen van een misdrijf” atau ”kesengajaan melakukan suatu kejahatan” sebagai ”het teweegbrengen van verboden handeling willens en wetens” atau sebagai ”melakukan tindakan yang terlarang secara dikehendaki dan diketahui. Oleh karena itu Profesor Van Hamel berpendapat, bahwa dalam suatu voltooid delict, atau dalam suatu delik yang dianggap telah selesai dengan dilakukannya perbuatan yang dilarang atau dengan timbulnya akibat yang dilarang, opzet itu hanyalah dapat berkenaan dengan ”apa yang secara nyata telah dilakukan ” dan ”apa yang secara nyata telah ditimbulkan” oleh si pelaku (Van Hamel, Inleiding, hlm. 284).

Bahwa perkataan ”willens en wetens” dapat memberikan suatu kesan, bahwa seorang pelaku itu baru dapat dianggap sebagai telah melakukan kejahatannya dengan sengaja, apabila ia memang benar-benar berkehendak untuk melakukan kejahatan tersebut dan mengetahui tentang maksud dari perbuatannya itu sendiri.

Unsur ” mengaku sebagai milik sendiri (zich toeeigenen) ”.

 

Bahwa Jaksa Penuntut Umum dalam Requisitornya sengaja atau lupa menghilangkan unsur yang terdapat dalam Pasal 372 KUHP. Sekali lagi jaksa telah melakukan penggelapan unsur dalam dakwaannya. Apakah Jaksa tidak tahu dengan tidak menguraikan seluruh unsur-unsur yang didakwakan terhadap Terdakwa maka perbuatan terdakwa menjadi tidak terbukti sebagimana menurut ajaran ”feit materil”? Barangkali Jaksa takut apabila diuraikannya unsur ini maka perbuatan Terdakwa jelas tidak memenuhi unsur tersebut.

Bahwa dalam perkara ini, Terdakwa sadar benar bahwa pengambilan uang sebesar Rp. 10.000.000,- adalah untuk pembelian cool storage atas perintah Agustinus Tantohari. Bahwa Terdakwa tidak pernah berniat uang yang diambilnya akan dipergunakan bagi dirinya sendiri. Bahwa setelah mengambil uang tersebut, Terdakwa langsung menyerahkan kepada Agustinus Tantohari, terbukti pada bulan Februari 2008 telah terjadi pembelian cool storage. Dan terbukti Agustinus Tantohari mengakui telah meminjam uang dari Terdakwa.

Unsur ”memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan suaminya (istrinya) yang sudah dibebaskan dari kewajiban tinggal serumah dengan istrinya (suaminya) atau keluarga sedarah atau keluarga semenda, baik dalam keturunan yang lurus maupun keturunan menyimpang dalam derajad kedua”

 

Bahwa benar Egner Konstantin merupakan anak tiri dari Terdakwa, berarti masuk dalam kategori semenda. Akan tetapi sebagaimana sudah kami sebutkan dalam pledoi ini, sebenarnya Egner Konstantin tidak layak untuk dikatakan sebagai korban, karena terbukti bahwa Vitaqua adalah dimiliki oleh Agustinus Tantohari. Uang atau barang sebagaimana yang terdapat dalam rekening atas nama Egner adalah didapat dari hasil penjualan air minum Vitaqua, yang mana Vitaqua adalah milik Agustinus Tantohari.

Jaksa Penuntut Umum mengada-ngada mengatakan uang sebagaimana dimaksud barang a quo adalah sejumlah Rp. 72.390.000,- Apakah benar selain Rp. 10.000.000,- Terdakwalah yang mengambil? Apakah benar terbukti dalam persidangan ini, satu persatu berdasarkan print out penarikan, Terdakwalah yang mengambil semua? Apakah ada saksi yang melihat, mengetahui, mendengar dan mengalami langsung Terdakwa yang mengambil uang tersebut secara satu persatu secara keseluruhan didukung dengan barang bukti lain semacam CCTV? Bahwa JPU telah menggeneralisasikan berdasarkan asumsi belaka sementang ada berita acara penyerahan tertanggal 21 September 2005 dan buku tabungan beserta ATM a quo dikembalikan pada tanggal 3 Juli 2008. Bukan berarti seluruhnya Terdakwa-lah  yang melakukan pengambilan!  JPU telah melanggar prinsip asas praduga tidak bersalah. Bahwa bila jaksa mendalilkan, seharusnya pula jaksa dapat membuktikan satu persatu pengambilan uang yang ada di dalam print out buku tabungan a quo. Salah satu contohnya bahwa Egner sering melakukan pengambilan uang melalui rekening a quo, terbukti pada pengambilan uang tertanggal 19 April 2006 dan 13 Desember 2006 yang bersandi penarikan tunai harus di depan teller, tidak mungkin dapat dilakukan oleh Terdakwa. Bahwa benar Egner Konstantin telah berdusta di persidangan dengan mengatakan tidak pernah meminjam buku tabungan dan ATM a quo selama Terdakwa mengelola Vitaqua.

Berdasarkan hal ini, unsur-unsur di atas adalah tidak terpenuhi.

Unsur ”yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan”.

Bahwa benar pada tanggal 21 September 5 diserahterimakan buku tabungan dan ATM a quo dari Umi Kulsum, akan tetapi adalah atas perintah Agustinus Tantohari, bukan atas perintah Egner. Bahwa pada saat itu Umi Kulsum tidak pernah memberitahukan nomor pin ATM tersebut kepada Terdakwa karena sesungguhnya Ia tidak tahu. Terdakwa mengetahui nomor pin tersebut langsung dari Egner Konstantin sebagaimana hal ini diakui oleh Egner dalam persidangan.

Bahwa serah terima tersebut dilakukan atas kehendak bersama keluarga yang ingin agar Terdakwa terlibat dalam usaha-usaha bersama demi peningkatan penghasilan yang akan didapat keluarga. Oleh didasari kebersamaan itu, masing-masing pihak memiliki wewenang yang sama bila masing-masing pihak sepakat hal-hal tersebut adalah demi kepentingan bersama serta satu sama lain saling mengizinkan. Bahwa akan tetapi selama serah terima tersebut, Terdakwa tidak pernah mempergunakannya demi kentungan pribadi semata. Secara profesional, Terdakwa memisahkan antara kepentingan rumah tangga  dengan kepentingan usaha-usaha keluarga yang dijalankan bersama. Terbukti bahwa pengambilan uang yang dilakukan Terdakwa adalah juga demi kepentingan usaha Indobeef yang saat itu sangat memerlukan pembelian cool storage demi peningkatan usaha tersebut.

Berdasarkan hal tersebut, maka sebenarnya penguasaan terhadap ATM dan buku tabungan a quo tidak secara sendirian oleh Terdakwa. Terbukti selama berada pada Terdakwa, Egner Konstantin sering meminjam buku tabungan dan ATM a quo untuk melakukan pengambilan uang.

Unsur ”beberapa perbuatan meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut”

 

Bahwa dalam perkara ini, secara nyata perbuatan yang Terdakwa lakukan hanyalah pengambilan uang melalui ATM sebesar Rp. 10.000.000,- pada tanggal 1 Februari 2008 sebagaimana dipermasalahkan oleh Egner sejak awal di kepolisian. Sedangkan penarikan-penarikan lain jelas tidak dapat dibuktikan kebenarannya oleh Jaksa Penuntut Umum selama persidangan. Oleh karena fakta tersebut, maka tidak ada perbuatan berlanjut yang dilakukan oleh Terdakwa dalam perkara ini. Selain itu, unsur kejahatan atau pelanggaran yang terdapat dalam pasal ini tidak terbukti sebagaimana telah kami uraikan sebelumnya.

V.7. Tidak Ada ’Kesalahan’ Sama Sekali (Afwezigheid Van Alle Schuld)  

Bahwa untuk memidana seseorang di samping melakukan perbuatan yang dilarang, dikenal asas yang berbunyi : ”tiada pidana tanpa kesalahan” (Geen straf zonder schuld / Actus non facit, nisi mens rea ).

Bahwa kalaupun Jaksa Penuntut Umum berpendapat seluruh rumusan unsur tindak pidana telah terpenuhi -quod none-, menurut doktrin hukum pidana, pertanggungjawaban pidana ditentukan tidak hanya berdasar pada ’feit materiel’ (rumusan tindak pidana yang telah terpenuhi semata), tetapi haruslah ditentukan adanya ’kesalahan pembuat’ (liability based on fault). Dengan demikian, kesalahan ditempatkan sebagai faktor penentu pertanggungjawaban pidana dan tidak hanya dipandang sekedar unsur mental dalam tindak pidana.

Selanjutnya, bahwa menurut Prof. Moelyatno, ”orang dapat dikatakan mempunyai kesalahan, jika dia pada waktu melakukan perbuatan pidana, dilihat dari segi masyarakat dapat dicela karenanya, yaitu kenapa melakukan perbuatan yang merugikan masyarakat padahal mampu untuk mengetahui makna (jelek) perbuatan tersebut, dan karenanya dapat bahkan terus menghindari untuk berbuat demikian? Jika begitu, tentunya perbuatan tersebut memang sengaja dilakukan, dan celaannya lalu berupa: kenapa melakukan perbuatan yang dia mengerti bahwa perbuatan itu merugikan masyarakat?”

Simons mendefenisikan ”Kesalahan adalah adanya keadaan psikis yang tertentu pada orang yang melakukan perbuatan pidana dan adanya hubungan antara keadaan tersebut dengan perbuatan yang dilakukan yang sedemikian rupa, hingga orang itu dapat dicela karena melakukan perbuatan tadi.”

 

 

 

 

Dari sini maka untuk adanya kesalahan harus dipikirkan dua hal di samping melakukan perbuatan pidana. Pertama, adanya keadaan psikis (batin) yang tertentu, dan Kedua, adanya hubungan yang tertentu antara keadaan batin tersebut dengan perbuatan yang dilakukan, hingga menimbulkan celaan tadi.

Bahwa Terdakwa tidak pernah mengetahui adanya larangan terhadap perbuatannya. Andaikata Terdakwa dipidana tanpa mempunyai kesalahan karena Terdakwa melakukan perbuatan yang tidak Ia tahu, bahkan tidak mungkin untuk mengetahuinya bahwa merupakan perbuatan pidana, niscaya hal itu akan melukai perasaan keadilan. Seyogyanya dalam hal yang demikian, Terdakwa diberi peringatan terlebih dahulu. Dan hal itu tidak ada sebagaima berdasarkan fakta larangan baru muncul ketika Egner Konstantin melaporkan kasus ini kepada pihak kepolisian.

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang Terhormat

 

Marilah bersama-sama kita coba memandang kasus ini berdasarkan hati nurati, didukung dengan kebenaran yang sebenar-benarnya dan dengan seyakin-yakinnya, apakah ada kesalahan dalam diri Terdakwa?

Terdakwa hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mencoba sebisa mungkin berbuat sebaik-baiknya dalam melaksanakan perannya. Namun apa daya jika masing-masing pihak pada keluarga tersebut memiliki kehendak berbeda di dalam pikirannya, dan bagaimana jika ternyata kehendak dalam pikiran itu bertentangan satu sama lain?  Konflik yang terjadi di dalam rumah tangga Terdakwa tidaklah ada yang menghendaki, namun apakah sebuah konflik rumah tangga menjadi pembenaran sebuah dalih lain agar seseorang harus dinyatakan kriminal? Apakah layak kita seret kasus perebutan anak yang merupakan konteks private menjadi ranah publik dalam hal ini dikriminalkan pula? Patut jualah kiranya Majelis Hakim melihat secara kompleks latar belakang sehingga kasus ini bergulir. Apakah harus, hanya demi menjalankan formalitas hukum semata maka kita korbankan kehidupan Terdakwa yang tidak nyata kesalahannya? Apakah patut Terdakwa yang seorang ibu, dilaporkan sendiri oleh anak tirinya. Seorang anak yang seharusnya menghargai bahwa Terdakwa merupakan pilihan Ayahnya ketika akan menikah. Benar kiranya, konspirasi antara Ayah dan anak pada kasus ini membuat seorang perempuan, sengaja untuk dilemahkan demi pencapaian sesuatu. Semoga masih ada pihak-pihak yang membantu sebagaimana masih adanya seorang Ibu yang gigih memperjuangkan anaknya yang berumur dua tahun, untuk tidak jatuh pada penguasaan orang yang tidak layak demi keberlangsungan masa depan anak tersebut. Itulah bathin seorang ibu kepada anaknya. Sebagaimana yang dipertontonkan kepada kita dalam perkara ini.

Sekarang marilah kita cermati, apakah salah perbuatan Istri yang berniat demi meningkatkan usaha bersama keluarga, itupun atas perintah Suami, dalam kasus ini sebagaimana Terdakwa meminjamkan uang kepada Suami untuk pembelian Cool Storage atas permintaan Suami tersebut? Apakah salah atas posisinya sebagai pengelola Vitaqua sekaligus ibu rumah tangga mempergunakan kewenangannya mengambil uang pada usaha Vitaqua tersebut demi kepentingan usaha keluarga yang lain pula? Apakah salah seorang istri yang juga memiliki hak pada harta suaminya, mengambil uang dari usaha Vitaqua yang juga dimiliki oleh suaminya tersebut? Apakah tercela Terdakwa yang tidak ada mempergunakan sebagaimana uang yang telah diambilnya untuk diserahkan kepada suaminya? Terhadap pertanyaan ini, kiranya Majelis Hakim telah menemukan suatu jawaban pasti dan benar sebagaimana kami, dalam Pledoi ini telah mengungkapkan seluruh kebenaran, dan seluruh ketiadaannya kesalahan pada diri Terdakwa.

 

BAB VI. KESIMPULAN

Majelis Hakim Yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati

Berdasarkan uraian-uraian yang kami sampaikan dalam analisa yuridis dan analisa atas fakta-fakta yang terungkap dalam persidangan melalui alat-alat bukti sebagaimana ditentukan secara limitatif berdasarkan ketentuan Pasal 184 KUHAP, yaitu keterangan Saksi, Keterangan Terdakwa SELVIANE, dan Petunjuk, maka kami dengan ini akan menyampaikan hal-hal sebagai berikut :

Bahwa dari keseluruhan keterangan Saksi yang dihadirkan dalam persidangan tidak ada keterangan yang menunjukkan adanya unsur kesalahan yang bersifat melawan hukum yang dilakukan oleh Terdakwa SELVIANE.

Bahwa untuk menjatuhkan pidana disyaratkan, seseorang harus melakukan perbuatan yang aktif atau pasif seperti ditentukan oleh undang-undang pidana, yang melawan hukum, dan tak adanya dasar pembenar serta adanya kesalahan dalam arti luas (yang meliputi kemampuan bertanggungjawab, sengaja atau kelalaian) dan tak adanya dasar pemaaf.

Bahwa oleh karena itu, kebenaran sejati yang hendak diungkap dari perkara ini haruslah didasarkan pada sistem pembuktian yang berpatokan pada “terbukti secara sah dan meyakinkan” (beyond a reasonable doubt) menurut hukum dan didukung dengan keyakinan hakim tanpa keraguan atas kesalahan Terdakwa SELVIANE sebagaimana dimaksud dalam Pasal 183 menyebutkan : Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekuarang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa Terdakwa-lah yang bersalah melakukannya.

Bahwa dengan demikian, dengan berpedoman pada fakta persidangan, analisis yuridis dan dikaitkan dengan ketentuan Pasal 183 KUHAP tersebut di atas, Terdakwa SELVIANE tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum.

 

 

VI.1.        Permohonan Kepada Majelis Hakim

 

Majelis Hakim yang kami muliakan

Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati

Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, kini tibalah saatnya bagi kami untuk menyampaikan permohonan kepada Majelis Hakim yang mulia agar berkenan menjatuhkan putusan sebagai berikut :

  1. Menyatakan Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum, melakukan tindak pidana yang didakwakan kepadanya dalam seluruh dakwaan;

 

  1. Membebaskan Terdakwa dari Dakwaan KEDUA Primair tersebut (vrijspraak), sesuai dengan Pasal 191 ayat (1) KUHAP;

 

  1. Atau setidak-tidaknya melepaskan Terdakwa dari semua tuntutan hukum (onstlag van alle rechtsvervolging), sesuai dengan Pasal 191 ayat (2) KUHAP;

 

  1. Menyatakan Terdakwa bebas demi hukum dan segera dikeluarkan dari tahanan;

 

  1. Mengembalikan kemampuan, nama baik, harkat dan martabat Terdakwa ke adalam kedudukan semula;

 

  1. Membebankan ongkos perkara kepada Negara.

 

Atau

Bilamana Majelis Hakim yang mulia berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya menurut hukum (ex aequo et bono).

 

 

BAB VII.      PENUTUP

Majelis Hakim Yang Mulia, Jaksa Penuntut Umum, Sidang Yang Kami Hormati,

Bahwa dalam perkara ini, kita semua mencari kebenaran sejati dan bukan hanya sekedar mencari  alat-alat bukti untuk dapat menuntut dan menjatuhkan hukuman kepada Terdakwa, tetapi harus pula menggali, mencari dan menemukan dasar dan alasan bahwa Terdakwa tidak bersalah menurut hukum pidana dan rasa keadilan. Untuk itu sangatlah diperlukan sikap jujur dan obyektif, bahwa demi kebenaran dan keadilan tidak hanya berlandaskan aturan-aturan formal atau perasaan yang direkayasa belaka, tetapi juga dapat ditemukan suatu persepsi hukum yang sifat dan bentuknya tidak tertulis sekalipun, namun dapat memperkokoh dan mempertebal keyakinan dan rasa keadilan.

Hal ini sejalan dengan fungsi utama dari eksistensi hukum pidana, yakni mengatur keserasian antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Eksistensi ini pada dasarnya meliputi nilai-nilai pokok yang terkandung dalam hukum pidana, yakni nilai keamanan dan ketertiban, nilai kesadaran masyarakat akan makna dan hakekat hukum, yang kemudian dapat menjadi sumber keadilan, kedamaian, kesejahteraan rohaniah dan jasmaniah, sebagai tujuan akhir dari hukum pidana. Harus diakui, memang tidaklah mudah untuk mewujudkan keadilan, sebagaimana diharapkan oleh hukum pidana. Karena usaha untuk mencari kebenaran yang hakiki dan rasa keadilan yang murni seringkali mengalami banyak hambatan dan kesulitan. Demikian juga terhadap proses pemeriksaan perkara a quo. Namun kami yakin kesulitan macam apapun  jika dihadapi dengan sikap arif dan bijaksana terutama Majelis Hakim Yang memimpin dan menentukan penyelesaian perkara ini, Insya Allah semuanya akan berjalan baik dan lancar.

Bahwa Majelis Hakim-lah yang kami harapkan dapat dengan tegas menentukan keyakinannya terhadap hal-hal yang diyakini benar dan salah, sehingga terhindar dari keragu-raguan dalam rangka mencari kebenaran yang dapat dipertanggung-jawabkan secara hukum dan keadilan. Bukan saja Terdakwa yang mendambakan kebenaran dan keadilan ini, tetapi masyarakat pun demikian meskipun kita meyakini bahwa yang maha benar dan maha adil ada di tangan yang Maha Kuasa. Namun kita sebagai hambanya wajib untuk melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhkan larangan-laranganNya, terlebih-lebih jika diingat bahwa dalam menjalankan tugasnya seorang hakim adalah merupakan wakil TUHAN di dunia dan pada tiap putusan hakim selalu mengatasnamakan Ketuhanan Yang Maha Esa.  Dengan demikian mudah-mudahan kita semua terutama Majelis Hakim, kiranya diberikan petunjuk dan kekuatan untuk menentukan mana yang salah dan mana yang benar dengan dilandasi pertimbagan demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dapat diwujudkan dalam bentuk putusan perkara ini.

Bahwa pada akhirnya di pundak Majelis Hakim-lah sinar keadilan itu akan memancar. Oleh karena itu kami selaku penasehat hukum terdakwa yakin putusan yang akan dijatuhkan oleh Majelis Hakim adalah putusan rasa keadilan, dengan mempertimbangkan sifat pidana yang dituduhkan kepada terdakwa, keadaan yang meliputi perbuatan-perbuatan yang dihadapi oleh terdakwa, pergolakan jiwa terdakwa, kepribadian dari terdakwa, umur, tingkat pendidikan, jenis kelamin, kondisi kesehatan dan sifat sebagai bangsa dan hal-hal lain yang semuanya mencermikan rasa keadilan.

Hormat kami

 

Tim Penasehat Hukum

  Terdakwa SELVIANE

4 Tanggapan to “NOTA PEMBELAAN/PLEDOI KASUS PENGGELAPAN DALAM RUMAH TANGGA”

  1. widiiihh oke banget

  2. salikhun ikano Berkata

    siip brader<<<<<<

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: